Senin, 17 Agustus 2009
Memaknai Peristiwa ''Puputan'' dari Alun-alun
-------------
DI hari libur atau minggu pagi, banyak orang jogging, lari pagi atau sekadar menghirup udara segar mengelilingi lapangan atau alun-alun Puputan Badung di tengah-tengah Kota Denpasar. Dalam kondisi seperti itu, batin serasa segar, bebas, lepas dan ringan dari beban keseharian. Sementara sore harinya, masyarakat pun tumpah ruah di ruang terbuka ini. Orang tua bersama anak-anak bersuka ria menikmati ruang yang lapang. Ada yang bercanda, berlari-larian, atau anak-anak bermain sepak bola.
Di sisi timur para penghobi catur tekun bermain. Sementara di tepi utara lapangan berdiri Patung Puputan Badung (simbol ayah, ibu dan anak -- satu keluarga) dalam posisi pekik "puputan", gagah berani, dikelilingi air mancur yang muncul dari sisi-sisi kolam. Pada sudut timur laut dan barat laut, terdapat bale bengong. Sementara di sudut tenggara ada dua bale sakapat. Selain itu, ada dua gugus rumah kebun berdinding transparan -- jejaring kawat, berangka pipa besi bercat hijau daun - di sisi selatan lapangan.
Dari catatan sejarah, alun-alun atau lapangan ini sudah ada sebelum peristiwa puputan terjadi. Namun, seberapa jauh makna alun-alun sesungguhnya masih bertahan? Adakah bedanya, ruang terbuka umum kota dengan alun-alun Puputan Badung? Sejauh mana kontribusinya sudah bisa dirasakan bagi warga Kota Denpasar dan sekitarnya?
Asal Usul
Hingga sekarang masih belum diketahui dengan pasti asal-usul alun-alun. Namun diperkirakan, konsep alun-alun itu muncul di era kerajaan Hindu dulu. Lantaran keberadaan alun-alun itu terkait dengan upacara-upacara kenegaraan Hindu ketika itu, tatkala istana Raja membutuhkan ruang terbuka untuk prosesi-prosesi ritual. Misalnya seperti penobatan Raja, pernikahan keluarga Raja, penyambutan tamu kerajaan, atau kegiatan ritual puri lainnya.
Tulisan dalam kitab Negarakertagama pun konon ada menyebutkan, bahwa keberadaan alun-alun telah dimulai sejak abad ke-14 peradaban Majapahit.
Sementara Stutterheim (1948) pernah membuat suatu perkiraan rekonstruksi dari kota Majapahit di Trowulan yang memperlihatkan bahwa struktur kota Majapahit memiliki bentuk yang tersusun oleh beberapa jalan dengan arah-arah sesuai dengan mata angin. Nah, menurut penafsirannya, struktur simpul kota Majapahit serupa dengan pola perempatan Agung Hindu yang ada di Bali. Dalam hal ini diketahui bahwa sumbu-sumbu mata anginlah yang mengorganisir tata ruang dan bangunan secara keseluruhan. Di sisi lain dapat dilihat adanya posisi sentral dari puri dan alun-alun.
Kini di beberapa tempat lain -- ditengarai -- terdapat adanya perubahan makna alun-alun yang semula punya konteks ritual spiritual menjadi taman atau ruang terbuka umum kota. Hal itu bisa terjadi bila konsep urban yang berkembang dalam kehidupan bermukim modern yang ada menggeser konsep dan makna alun-alun sesungguhnya. Bila demikian, kebutuhan masyarakat kota akan upacara atau ritual lokal maupun nasional cenderung tergusur oleh kebutuhan pragmatis ekonomis urban modern itu. Nah, bagaimana dengan lapangan atau alun-alun Puputan Badung yang memiliki makna historis tata ruang kota dan perjuangan di zaman kerajaan? Apakah makna semula tetap bisa terpelihara?
Alun-alun kini -- sebagai ruang terbuka kota -- berpeluang menjadi suatu fasilitas rekreasi publik yang lebih dinamis, bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas. Tak hanya bersifat menanti pemaknaan dari luar, melainkan pula memperoleh makna dari dan di dalam "diri"-nya. Alhasil, alun-alun memiliki kekuatan yang memberi makna kepada realitas penggunaan alun-alun itu sendiri.
Sebagai suatu kekosongan ("teks" yang masih ditafsirkan kembali), alun-alun Puputan Badung akan memperoleh makna dari perkembangan kegunaannya di era saat ini. Sebagai sebuah ruang terbuka, ia punya aneka kemungkinan aktivitas dan peristiwa yang bisa terjadi di dalamnya. Dengan adanya peristiwa-peristiwa itulah makna sebuah ruang terbuka menjadi bervariasi penggunaannya.
Analogi Pemaknaan
Pelapisan makna tersebut bisa dianalogikan seperti teori "penggunaan bahasa" dari Ludwig Wittgenstein yang mengatakan, "jangan tanya makna sebuah kata, tapi lihatlah bagaimana dia digunakan" (Linge, E. David, 1976). Jika ditafsirkan lebih rinci, ia memiliki pengertian, "Makna sebuah kata adalah tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat, makna kalimat tergantung pemakaiannya dalam bahasa, sedangkan makna bahasa tergantung penggunaannya dalam hidup" (Hidayat, Proseding Lingkung-Bina, 2001, Kaelan 1998: 149).
Ibarat sebuah kata, tak bisa dicari maknanya dengan cara menanyakan apa makna menyeluruh dari kata itu sendiri. Kadang ada kesulitan semisal mencari makna yang luas dan lengkap dari kata "buah". Maknanya bisa bermacam-macam tergantung dari kemungkinan jalinannya, apakah sebagai buah mangga, buah apel, buah hati, sampai buah bibir. Masing-masing pertalian itu bisa beda maknanya bila digunakan dalam kalimat, lantas beda pula maknanya dalam bahasa dan beda lagi maknanya dalam kehidupan nyata.
Begitu juga jalinan makna sebuah alun-alun Puputan Badung dengan peristiwa historis yang dikandungnya. Coba disimak sekilas kisah di bulan September 1906: Belanda yang telah menguasai Singaraja dan sekitarnya, meneruskan penyerangannya ke wilayah Bali Selatan. Gempuran dari Belanda tersebut mendapat perlawanan gigih dari rakyat dan Raja Badung, Gusti Gde Ngurah Denpasar. Tiada rasa gentar sedikit pun, Raja Badung beserta segenap keluarganya melawan hingga titik darah terakhir. Singkat cerita, Raja Badung gugur bersama seluruh keluarga dan rakyatnya, pada 20 September 1906, yang dikenal dengan sebutan Puputan Badung.
Peristiwa heroik yang terjadi pada tanggal itu dan keberadaan patung Puputan Badung, dengan dasar berbentuk daun teratai dan spirit heroik puputan", lebih mengingatkan jalinan itu ke dalam makna historikal ruang sebuah alun-alun. Kemudian ada makna lain dalam keterjalinannya dengan kegiatan upacara yang terjadi di dalam lapangan itu sendiri, apakah untuk kegiatan upacara agama (keterkaitannya dengan keberadaan Pura Jagatnatha) atau kegiatan ritual lainnya. Begitu pula kegiatan upacara yang bersifat kedinasan formal atau seremonial (berbagai peringatan yang melibatkan masyarakat), hingga ajang berlangsungnya berbagai atraksi, hiburan, bersantai, olahraga, senam dan rekreasi.
I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 18 September 2005
Pura Agung Kentel Gumi, Klungkung, Tempat Memohon Kerahayuan Jagat
PURA Agung Kentel Gumi sebagai salah satu Triguna Pura atau Kahyangan Tiga Bali, memiliki beberapa kelompok pura. Pura yang sedang direhab dan berjarak sekitar 43 km dari
-------------
Pada dasarnya, pura merupakan simbol gunung atau alam semesta, tempat suci untuk menghubungkan diri dan memuja kebesaran Hyang Maha Pencipta dengan berbagai prabhawa-Nya. Di sini, Pura Agung Kentel Gumi (PAKG) berfungsi sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya selaku Sang Hyang Reka Bhuwana (pencipta alam semesta).
Berdasarkan lontar "Raja Purana Batur", PAKG merupakan salah satu dari Tri Guna Pura atau Kahyangan Tiga Bali, yakni sebagai Pura Puseh Bali, tempat mohon kedegdegan dan kerahayuan jagat. Sementara Pura Batur sebagai Pura Desa-nya, tempat mohon kesuburan, dan Pura Agung Besakih sebagai Pura Dalem-nya, tempat memohon kesucian sekala-niskala. Jadi, PAKG juga menjadi bagian amat penting sebagai Pura Kahyangan Jagat yang di-sungsung seluruh umat Hindu.
Konon dulu, diawali tancapan sebuah tiang dari Mpu Kuturan, sebagai pacek atau pasak, menjadikan suatu tempat menjadi pancer jagat atau dasar bumi pemberi keajegan gumi Bali yang sebelumnya sering gonjang ganjing oleh kerusuhan di dalam kehidupan masyarakatnya. Dari keadaan yang kembali pulih itulah konon nama Kentel Gumi bermula. Kentel artinya kental atau padat, memiliki makna "akrab", sedangkan gumi berarti bumi, dunia atau tanah.
Kira-kira, Kentel Gumi bermakna "terwujudnya persatuan dan kesatuan yang kental dengan suasana keakraban dan kedamaian hidup di bumi". Atau memiliki makna simbolik: penegakan kembali eksistensi spiritualitas pulau Bali oleh Mpu Kuturan yang luluh lantak sebelumnya akibat kekuasaan Raja Maya Denawa yang memerintah pada 962 M-975 M. Mpu Kuturan berhasil menertibkan dan menegakkan kembali kemasyarakatan penduduk Bali yang sebelumnya dihancurkan oleh pemberontakan Maya Denawa.
Tiga Kelompok
PAKG yang memiliki luas areal sekitar 50-an are ini pada dasarnya merupakan sebuah kompleks pura. Memiliki tiga kelompok: (1) Pura Agung Kentel Gumi, di dalamnya terdapat sekitar 19 bangunan suci (palinggih); (2) Pura Maspahit dengan
Di sebelah barat dari ketiga kelompok pura tadi terdapat Perantenan Suci, Bale Paebatan (berbatasan dengan jaba tengah), dan Pura Bale Agung (berbatasan dengan jaba sisi). Lantas, bagaimana dengan bangunan meru yang terdapat di jeroan PAKG? Bagian pura mana direnovasi atau direstorasi? Adakah pergeseran atau penambahan palinggih atau bangunan pelengkap yang baru?
Meru perlambang Gunung Mahameru, stana Dewa-Dewi, Bhatara-Bhatari leluhur berdasarkan lontar-lontar "Jaya Purana", "Wariga Catur Winasa Sari", "Kesuma Dewa", "Widhi Sastra", dan "Purana Dewa". Landasan filosofis meru berlatar belakang kepercayaan terhadap gunung yang disucikan, stana para dewa dan roh leluhur. Untuk kepentingan pemujaan, gunung suci itu disimbolkan dengan replikasi wujud bangunan meru. Di pura ini, meru tumpang 11 (sebelas) merupakan stana Batara Sakti. Meru tumpang 9 sebagai linggih Batara Mahadewa, tumpang 7 stana Batara Segara, tumpang 5 linggih Batara di Batur, dan tumpang 3 stana Batara Ulun Danu.
Punya Keyakinan
Kendati tak jelas kapan PAKG mulai dibangun, namun menyitir suratan "Babad Bendesa Mas", pura ini dibangun oleh Mpu Kuturan. Itupun -- konon -- setelah mengalami pemugaran, karena disebutkan beberapa palinggih sudah ada sebelum Mpu Kuturan datang. Sementara Raja yang memerintah (pada saat Mpu Kuturan tiba dan membangun PAKG) adalah pada masa pemerintahan Raja Sri Kresna Kepakisan yang memerintah Bali pada 1350 Masehi, setelah Maha Patih Gajah Mada berhasil menaklukkan kekuasaan Raja Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten. Saat kekuasaan Raja Sri Kresna Kepakisan (di abad ke-14) itulah keadaan raja, rakyat dan alam benar-benar stabil, manakala perhatian difokuskan pada pembangunan dan pengembangan PAKG.
Tuhan pada awal penciptaannya mewujudkan semesta secara seimbang sebelum manusia ikut ambil bagian mencemari dan merusak alam. Upaya manusia dan generasi penerusnya adalah selain untuk senantiasa menjaga kerukunan hidup bermasyarakat juga kelestarian alam semesta. Pada-Nya setiap orang patut wajib melakukan doa persembahan atau meningkatkan denyut spiritualitas pada Hyang Pencipta, agar setiap insan senantiasa meningkatkan kebaikan perilakunya. Tuhan dipuja juga sebagai pemberi stabilitas dalam arti luas.
Jadi, sejumlah palinggih yang dibuat boleh dikata sebagai tempat stana Tuhan dengan segala manifestasi-Nya yang dibuat sesuai lontar "Asta Dewa" dan "Asta Kosala-Kosali". Di sisi lain, sebagai penghormatan spiritual terhadap Mpu Kuturan, dibangun palinggih Manjangan Saluang.
I Nyoman Gde Suardana, "Bali Post", Minggu, 17 Desember 2006.
Rancangan Taman Bung Karno, Ruang Publik, Titisan Spirit Bali
Beberapa bulan lalu, telah diselenggarakan Sayembara Perancangan
TENTU sudah dimaklumi bersama, Kota Denpasar telah dicanangkan sebagai
Dpilihnya tempat tersebut lantaran lokasinya diangnggap amat strategis sebagai ruang terbuka, tempat rekreasi dan ajang bersosialisasi di antara dinamika kehiupan masyarakat kota, dalam upaya menuju pola hidup yang nyaman, nikmat, tentram, bahagia, serta memenuhi syarat kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis.
Lahan yang disediakan pun memiliki luasan 5,57 hektar, dengan persyaratan luas total bangunan terhadap luas lahan (koefisien dasar bangunan) tak boleh lebih dari 15%.
Tim juri sayembara perancangan Taman Bung Karno (TBK) dibentuk demikian selektif, terdiri dari tokoh sejarah, budaya, ekonomi, pariwisata dan arsitektur. Dari hasil penilaian, lahir
Pada dasarnya, para peserta tersebut dianggap telah memenuhi
Rancangan Nuarta lebih menekankan TBK sebagai landmark yang memiliki cirri sangat spesifik dan mengandung daya pikat wisata. Dalam hal ini lebih difokuskan pada faktor monumentalitasnya, yang dianggap sangat penting. Lantaran itu pula pengolahan tapak patung utama Bung Karno (BK) dibuat agar dapat terlihat dari berbagai arah. Alhasil, patung BK diberdirikan di tengah, hingga menjadi aksen di tengah taman. Sementara gugus bangunan yang didesain seperti amphiteater, restaurant, hingga perpustakaan, menjadi pendukung tamannya.
Nuarta telah berupaya memadukan aspek sejarah dan seni. Pengenalan Nuarta terhadap karakter BK (selain sebagai Bapak Proklamator juga kolektor seni) membuat rancangan taman yang ditampilkannya berkesan dinamis tanpa mengabaikan konsep-konsep ruang
Sementara karya Gusti Made Putra berpijak pada konsep dasar monumental (agung, berwibawa, sederhana dan menimbulkan kesan peringatan) dan rekreatif (menimbulkan suasana indah, santai/rileks, menghibur, dan menyenangkan). Perancangan arsitektur tamannya menggunakan pola penataan perempatan agung (catus pata atau tampak dara) sebagaimana pola penataan yang ada pada puri-puri di
Selain mempertimbangkan sumbu bumi (kaja-kelod dan kangin kauh) pun mempertimbangkan sumbu mata angina dan pola telajakannya. Di sisi laijn, ungkapan sosok BK dalam perencanaan dituangkan dalam bentuk symbol-simbol pada elemen bangunan maupun monument.
Zaman Kerajaan
Bagaimana dengan karya A A Gd. B. Edyana? Kajian perencanaan (untuk fungsi-fungsi bangunan) nya bertitik tolak dari konsep ruang Bali Tradisional. Sementara konsep filosofisnya merupakan salah satu butir-butir pendekatan, seperti Tat Twam Asi, tri loka, tri hita karana, bhuana agung, bhuana alit, manik ring cucupu, desa kala patra, dan dewata nawa sanga. Di sisi lain, dalam pembuatan rancangan tapak (site plan), konsepnya mengacu pada tatanan hulu teben, tri mandala, sanga mandala, swastikasana, tri angga, natah, ragam hias, warna, fungsi, bahan lokal, ukuran bangunan, dan ketinggian.
Dari aspek rancangannya, konsep taman Edyana terinspirasi oleh karya arsitektur pertamanan di zaman kerajaan tempo doeloe yang memiliki fungsi rekreasi. Pusat perhatian ditunjukkan dengan menempatkan figure BK sebagai proklamator, penggerak semangat pembangunan mental bangsa. Sementara symbol tamannya diangkat dari narasi “Adi Parwa”, tentang kisah “Pemutaran Mandhara Giri”, secara simbolik memanfaatkan unsur air, hard scape (unsur keras), soft scape (unsur lunak), unsur estetika, religi, maupun bentuk-bentuk bangunan yang mencerminkan semangat kehidupan.
Karya terbaik berikutnya dari CV Cipta Mandala, memiliki usulan program penataan menyangkut program yang bersifat fungsional maupun program arsitekturalnya. Program fungsionalnya diterjemahkan secara luas dalam beberapa aktivitas seperti fungsi rekreasi, belajar, ekologis, budaya dan psikologis.
Fungsi rekreasi tercermin pada areal terbuka yang dirancangnya, seperti Taman Lila Cita serta pada monument dan bangunan museumnya. Sementara fungsi belajar ditunjukkan dalam rancangan museum BK, area pengenalan dunia sains dan teknologi modern, perpustakaan, aula diskusi, renungan dan kajian adapt-budaya Bali dan agama Hindu serta Taman Taru Pramana. Sedangkan fungsi ekologis desainnya memanfaatkan penataan taman dan tanaman serta menjaga relasi yang harmonis dengan sungai (tukad) dan lapangan olahraga yang ada. Dari sisi fungsi sosial budaya, ungkapannya berupa areal ruang terbuka guru terwujudnya interaksi social masyarakatnya. Kemudian untuk menggelar aktivitas yang bernuansa adapt, seni dan budaya
Renungan yang juga memiliki fungsi secara psikologis ini, gubahan yang diwujudkan diharapkan bias mengurangi tekanan mental masyarakat mengingat padatnya aktivitas kehidupan yang ada di perkotaan. Area ruang terbuka dimanfaatkan melalui penataan melalui penataan lansekap bercitra Bali, rekreasi di dalam museum atau hiburan kesenian
Bagaimana dengan program arsitekturalnya? Beragam aktivitas yang termunculkan melalui fungsi-fungsi yang akan dikembangkan pada TBK memerlukan ruang sebagai wadahnya. Program tersebut menyangkut pada kebuituhan jenis ruangnya-kegiatan rekreasi, belajar, sosial budaya dan psikologi serta kegiatan ekonomisnya. Lantas, pengelompokan ruangnya meliputi adanya fasilitas utama (monumen BK), fasilitas pendukung (ruang pengelola, museum, perpustakaan, pengenalan teknologi, dll.), fasilitas pelengkap, taman parkir, Taman Taru Pramana, Taman Lila Cita, pos keamanan, toilet umum, pedestrian, terowongan penyebrangan, dan sculpture).
Usulan program penataan yang terakhir dari CV Cipta Mandala ini menyangkut program tapak (site) nya, terdiri dari beberapa komponen perencanaan seperti tat guna tanah dan tata ruangnya. Begitu pula aspek sirkulasi dan pencapaiannya, selain parkir, ruang terbuka, pedestrian ways, street furniture, signage, activity support, jaringan utilitas kawasan dan konservasi.
Sebagai karya terbaik kelima disandang oleh kelompok Saraswati dan Tekom, Denpasar. Konsepnya lebih nyata melihat dari sisi motivasi kedatangan masyarakat bagian barat dan utara serta pemukiman di sekitarnya. Rancangannya lebih mencerminkan penyediaan tempat bagi masyarakat agar dapat menikmati udara segar sembari bersantai bersama keluarganya.
Untuk itu disediakan wadah untuk kegiatan-kegiatan terjadwal yang dilaksanakan setiap tahunnya, baik berupa program pemerintah atau pun kelompok-kelompok masyarakat. Penataannya pun agaknya telah memperhatikan potensi-potensi yang tersisa pada tapak. Lantaran sarana ruang terbuka
Belum Lepas
Dari konsep-konsep rancangan yang dibuat oleh kelima peserta terbaik tersebut, agaknya belum bisa lepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ruang terbuka
Beberapa catatan mungkin bisa dijadikan pertimbangan dalam rancangan RTKTBK ini, antara lain (1) kelima karya terbaik ini agaknya perlu memasukkan analisis yang mengaitkannya dengan perkembangan arsitektur kota, (2) Belum terlihat adanya konsep dan desain rancangan yang berupaya untuk memperhatikan kalangan penyandang cacat, lanjut usia, bayi, dll, dengan menyediakan sarana kemudahan dalam bersikulasi, misalnya dengan mendesain jalan setapak berupa ramp untuk orang-orang difabel, (3) Membuat suatu konsep yang memiliki prospek untuk menjaga dan mengembangkan taman sebagai unsure keindahan dan kenyamanan kota sebagai unsure keindahan dan kenyamanan kota serta sebagai tempat rekreasi masyarakat luas, (4) Diupayakan agar tampil dengan identitas ke-Baliannya, berlandaskan falsafah Tri Hita Karana, dll., dengan konsep rancangan yang senantiasa dijiwai oleh kearifan lokal Bali.
Kiranya, dalam implementasi pembangunannya didambakan agar merupakan penggabungan atau paduan dari konsep dan rancangan
I Nyoman Gde Suardana, “
Patung I Gusti Ngurah Rai, Perjalanan Perjuangannya Perlu Ditampilkan
Tujuh anak tangga pada dasar paling nawah terdiri atas 8 (delapan) buah anak tangga, berbentuk setengah lingkaran. Bagian lengkung mengelilingi sisi kiri, belakang dan sisi kanan. Di lapisan landasan kedua, dimensi ketinggian masing-masing anak tangga kelihatan lebih tipis (rendah), terdiri atas 7 (tujuh) buah anak tangga. Kelompok anak tangga pada bagian ini berpola lingkaran penuh.
Pada kelompok anak tangga di atasnya, undagnya berjumlah 5 (
Jika masing-masinganak tangga tersebut ditambahkan, totalnya berjumlah 20 (dua puluh) anak tangga (8+7+5). Boleh jadi angka 20 itu bermakna sebagai tanggal terjadinya peristiwa histories “Puputan” yakni pada 20 Nopember 1946.
Sementara patung yang terwujud dari buah tangan pematung Surya Pranawa ini, mungkin dari bentuk fisik sudah bisa dikatakan menyuratkan sosok pahlawannya. Namun bagaimana mengenai spirit atau taksu (kharisma) patung yang dipancarkannya?
Batas Tipis
Nah, dalam proses pembuatan patung yang dikerjakan di Yogyakarta ini, tak kalah penting peranan dari I Gusti Ngurah Pindha (alm), mantan anggota pasukan pimpinan I Gusti Ngurah Rai, selaku nara sumber bagi pematung, pemberi gambaran sosok dan tabiat mulia-berwibawa dari pahlawan I Gusti Ngurah Rai.
Dari tatanan ruang (spasial), tampaknya patung ini hanya memiliki batas yang amat tipis dengan jalan. Konsep ruang lokal (di Bali), sudahkah menjadi acuan dalam rancangan tapak yang tertuang dalam wujud fisik visual patung pahlawan yang kita hormati ini?
Landasan patung, sedari atas hingga pada lapisan terbawah, sepertinya, tak ada menampilkan ornamen atau ragam hias bercitra
Perjalanan panjang “Junu-Juli” diawali dari pertemuan yang terjadi di Sekumpul dan Pangkung Bangka (Buleleng), penyerangan Pos NICA di Lampu (Bangli), Pertempuran di Bon (Badung), pertempuran di Pemuteran, Pesagi dan Tanah Aron (Karangasem) yang terjadi pada Juni dan Juli, hingga puputan Margarana pada 20 Nopember 1946.
Perjalanan historis perjuangan itu mungkin perlu “ditayangkan” dalam media rupa patung pahlawan I Gusti Ngurah Rai.
Di antara perkembangan keramaian lalu lintas dan bangunan-bangunan yang kian menjamur di sekitarnya, keberadaan “visual” patung I Gusti Ngurah Rai tampak makin “tenggelam”. Memang dimensi besar dan ketinggian patung sepatutnya disesuaikan dengan skala jarak pandang. Namun dalam kondisi seperti sekarang, sudah memadaikah? Atau mungkin perlu lebih diangkat landasannya?
Hal ini semestinya sudah diprediksi sebelumnya saat membuat konsep rancangan. Terlebih posisi berdiri patung ini merupakan sebagai titik tangkap garis lurus dari pintu gerbang Bandara Ngurah Rai. Guna lebih menghidupkan citra sebuah patung pahlawan nasional asal
Nuansa Lokal
Mungkin, guna lebih mengangkat nilai-nilai magis, spiritual religius, sebagai kearifan lokal yang berlaku di
(penolak bala) di depan posisi patung yang berhadapan dengan jalan lurus Airport Ngurah Rai. Itu lantaran letak patung tersebut berada pada posisi numbak rurung. Boleh jadi diperlukan, terutama bila kemudian disediakan ruang-ruang untuk aktivitas-aktivitas di sekitar atau dibelakangnya.
Nah, apa yang bisa dilestarikan dan dikembangkan ke depan tak lain demi untuk lebih dapat dihayati pewarisan nilai historis perjuangan pahlawan kepada generasi penerusnya. Spirit perjuangan yang tak boleh redup, tak kunjung luntur. Sesuai dengan swadharma masing-masing, hendaknya senantiasa berjuang, bekerja dan berdoa menuju terwujudnya peradaban yang lebih luhur.
Sabtu, 11 Juli 2009
Pura Kelasa dan Taman Narmada di Lombok Barat, Tempat Rekreasi yang Bervibrasi Spiritual
Nah, apa yang bisa disimak dari Pura Kelasa dan Taman Narmada yang juga berada dalam satu area dengan bekas puri peristirahatan raja Mataram ini?
NAMA Pura Kelasa konon berasal dari nama sebuah gunung di India, Gunung Kelasa. Sementara nama Taman Narmada diambil dari sebuah nama sungai suci yang juga terdapat di India. Menurut catatan sejarah, pura, taman dan puri itu dibangun pada akhir Abad ke-18 M oleh Raja Mataram yang berkedudukan di Cakranegara, Lombok Barat. Pura Kelasa didirikan di sekitar mata air, berkiblat ke arah puncak Gunung Rinjani dengan danau Segara Anakan-nya.
Lantas, apa maksud raja mendirikan semua itu? Konon lantaran usia raja sudah uzur, tak kuasa mengikuti upacara pakelem dan pujawali di danau Segara Anakan. Untuk itu, Raja Mataram menganggap cukup bila dilakukan dengan menghadiri atau mengikuti upacara pujawali di Pura Kelasa. Sementara upacara pakelem yang diselenggarakan di Segara Anakan, secara simbolis dilakukan di mata air Taman Narmada.
Beberapa Palinggih
Pura Kelasa yang pujawali-nya jatuh pada Purnama Sasih Kalima ini memiliki tiga mandala, tapi terdiri dari lima transis, yakni utama mandala (transis teratas), merupakan jeroan pura; madya mandala (transis kedua) sebagai jaba tengahnya dan kanista mandala (transis ketiga, keempat dan kelima) sebagai jaba sisi-nya. Konon dulu-sebelum pura, taman dan puri dibangun-di kawasan ini banyak ular berbisanya. Maka hutan lebat yang ada pun dibabat, burung merak didatangkan dari Sumatra untuk memangsa ular-ular itu. Usai diadakan upacara ritual, ular-ular berbisa itu konon seketika lenyap.
Apa saja yang ada di jeroan pura? Beberapa palinggih yang terdapat di area utama mandala-nya antara lain palinggih Gunung Agung (bangunan meru tumpang satu), palinggih Gunung Semeru (meru tumpang tiga), palinggih Gunung Rinjani dan Ngerurah. Jeroan dari pura ini dikelilingi tembok panyengker, berbahan bata merah dan penempatan beberapa roster “China” di beberapa sisi, dilengkapi dua buah kori agung. Satu terletak di sebelah barat dan sebuah lagi di selatan. Kedua kori ini ber-undag-undag, di sisi kiri kanannya diapit patung naga. Sementara di setiap sudut telajakan-nya terdapat masing-masing sebuah patung. Di jaba tengah berdiri bale kembar (bale gong bertiang enam).
Menurut Jero Gde Pasek Subratha, pemangku Pura Kelasa Narmada, kondisi Pura Kelasa pada tahun 1954 masih utuh seperti aslinya. Namun, antara tahun 1955-1956 mulai dilakukan rehabilitasi hingga terwujud sebagai Pura Kelasa seperti saat ini. Dikatakannya pula bahwa adanya perubahan waktu pujawali-dari purnama kapitu menjadi purnama kalima-dilakukan sekitar tahun 1958, yang ditetapkan berdasarkan hasil paruman (pertemuan) para pandita Hindu di Lombok ketika itu. Secara umum prinsip ritualnya, ngaturang pakelem di Gunung Rinjani, ngayat dari Pura Kelasa.
Pemandian Selir Raja
Beragam jenis tanaman tumbuh menghiasi sekitar pura seperti pohon cempaka, sawo tunjung, hingga beringin. Di belakang pura ada sebuah bangunan Kemalik yang konon merupakan tempat mohon doa restu dan sujud bakti bagi beberapa kalangan dari suku Sasak yang punya ikatan tradisi pada leluhurnya. Tradisi ini boleh jadi lantaran adanya afiliasi cultural (pertalian budaya) keyakinan kepercayaan etnis Sasak di zaman itu, wujud cerminan kerukunan antar suku maupun umat beragama.
Pura Kelasa Taman Narmada di-empon oleh tiga banjar yakni Br. Gondawari, Br. Gandari (keduanya di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada) dan Br. Peresak, Desa Peresak. Jauh di sebelah barat daya (di bagian bawah) pura ada kolam yang dulunya merupakan tempat pemandian para selir Raja. Sang Raja akan duduk menyaksikan mereka dari atas balkon bale terang (sebuah bangunan berlantai dua, bagian dari kompleks puri peristirahatan raja di zaman dulu) yang terletak di tanah ketinggian bagian baratnya.
Di sebelah selatan pemandian terdapat kolam renang, terdiri dari kolam renang dewasa dan anak-anak. Di sebelah kolam renang ini ada kolam yang amat luas, disebut telaga ageng. Semua bentuk kolam dan pertamanan itu bisa disaksikan dan dinikmati keindahannya dari bale terang yang bangunan di lantai atasnya terbuat dari kayu, baik dinding, lantai, railing tangga dan rangka atapnya.
Dari area bale terang yang di zaman dulu berada di zona pesarean ini banyak dijumpai jalan setapak dan puluhan anak tangga (undag) menurun menuju tempat pemandian, kolam renang dan telaga ageng. Rerimbunan pepohonan yang ada di kawasan Taman Narmada ini sangat mendukung pelestarian alamnya. Tepat di sebelah barat bale terang ada bale pertemuan dengan 8 tiang besar, 15 tiang kecil. Kini, bangunan ini ditambah emper di sayap utara dan selatannya dengan masing-masing empat tiang pipa besi.
Jika digambarkan secara menyeluruh rancangan tapak kawasan Taman Narmada, Pura Kelasa berada di sudut timur laut. Sebelah barat pura-di area jaba sisi, di utara kolam pemandian-ada bangunan bale petirtan (bale beji) dan bale sakepat. Di dalam bangunan ini ada mata air (kelebutan) dan pancuran kecil, yang pintunya dibuka untuk publik pada saat ada upacara pujawali atau pada saat ada umat Hindu tangkil sembahyang ke Pura Kelasa. Mata air yang bersumber di tempat inilah oleh masyarakat dikatakan sebagai “air awet muda.
Orientasi Sakral
Jika para pemedek hendak tangkil bersembahyang ke Pura Kelasa, dari halaman bale Petirtan, mereka mesti melalui banyak anak tangga (undag) di masing-masing terasering mandala pura. Memasuki jeroan pura, para pamedek mesti melalui kori agung yang ada dengan sejumlah anak tangga. Di sini ada dua kori agung-di bagian depan (sebelah barat) dan di selatannya.
Paling barat (di seberang tempat pemandian, kolam renang dan telaga ageng) merupakan kompleks peninggalan puri (peristirahatan dan persemayaman) keluarga Raja Karangasem yang berkuasa di Lombok dulu, Raja Mataram, Cakranegara. Bekas Puri itu, tapak atau site-nya memanang dari arah utara-selatan. Pintu gerbang utamanya (dalam bentuk candi bentar) menghadap ke utara, terletak di sisi jalan raya Narmada, Cakranegara.
Sepertinya bentuk dan pemakaian bahan candi bentar (yang ber-relief) ini sudah mengalami modifikasi dari aslinya. Namun masih banyak bangunan lain di kompleks bekas puri ini masih asli dan lestari, seperti adanya dua buah kolam yang saling bersebelahan (telaga kembar), kori agung (penghubung area depan dengan tengahnya), bangunan loji (dulu merupakan tempat menginap raja dan istrinya), serta bale terang yang lantai atasnya memiliki tiga bilik, bagian tengahnya terbuka, dihubungkan oleh masing-masing sebuah pintu masuk ke bilik kiri dan kanannya.
Miniatur
Keberadaan Pura Kelasa agaknya berangkat dari konsep kosmologi kehinduan, tatanan yang mengekspresikan pemahaman makna spiritual yang direpresentasikan melalui orientasi (kosmis) pada sesuatu yang sacral, seperti gunung dan danau. Kiblatnya sebagai sumbu imajineradalah kea rah posisi Gunung Rinjani, gunung ketiga tertinggi di Indonesia-3.726 meter di atas permukaan laut.
Pada rancangan tapak Taman Narmada yang memiliki luasan sekitar 6,2 hektar ini secara keseluruhan mengadopsi pola konstruksi lansekap Gunung Rinjani dan Danau Segara Anakan. Hal ini dapat ditunjukkan pada letak Pura Kelasa yang dibangun di area transis paling tinggi, sebagai “miniatur” Gunung Rinjani, tempat berstana para Dewata. Sementara yang mencerminkan sebagai Danau Segara Anakan-nya adalah mata air, tempat pemandian, kolam renang dan telaga ageng-nya, terletak jauh di bawah, ibarat lembah, yang ada danaunya. Pengolahan tapak secara keseluruhan : lahan untuk taman dan kolam di bagian tengah jauh lebih rendah. Untuk mencapainya mesti melewati atau menuruni puluhan anak tangga, dengan pengolahan bentuk undag-undag yang sebagian besar linier.
Pura Kelasa dengan Taman Narmada-nya bermakna kontekstualitas waktu, dalam artian tetap eksis sebagai lembaran referensi nilai kesejarahan dan religi. Sebuah karya arsitektur yang bermakna cultural nan kental, juga mampu membangkitkan kenangan masyarakat tentang kisah masa lalu. Selain memiliki kontekstualitas ruang yang adaptatif ekologis, keberadaan pura, tempat pemandian, telaga ageng dan bekas puri di areal Taman Narmada ini merupakan salah satu ikon arsitektur Nusantara yang tetap lestari menyiratkan makna spiritual, rekreatif dan historisnya.
I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 12 Februari 2006)
Menimang Kontribusi Arsitektur Bali Sikapi Globalisasi
PENEMUAN dan perkembangan teknologi mutakhir kini, terutama teknologi transportasi, telekomunikasi dan informasi memberi isyarat akan kemungkinan terwujudnya jarak ruang semakin kecil. Lantas, ada kecenderungan kian sedikitnya waktu yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya. Percakapan bisa dilakukan dalam ruang berbeda, namun pada waktu yang sama. Peranti elektronik baru deras bermunculan. Semakin mini tapi dengan kapasitas kian besar.
Contoh lain, remote control, telah mengurangi mobilisasi gerak fisik manusia, demi efisiensi waktu dan tenaga. Ukuran atau dimensi barang elektronik dan computer cenderung mengecil dan tipis, tapi punya potensi produksi tinggi. Sistem pemantauan jarak jauh melalui kamera mini dan layar monitor pun akan mempengaruhi berkurangnya pergerakan manusia di antara ruang-ruang. Semua ini merupakan dampak perkembangan tersebut, sebagai sebuah proses dan kondisi yang demikian kompleks, bersifat multibentuk dan multidimensi.
Peringkasan jarak ruang telah mengubah persepsi dan pandangan manusia terhadap ruang dan waktu itu sendiri. Persepsi tentang jauh dekat, luar-dalam, cepat-lambat sekarang telah mengalami perubahan. Orang-orang bepergian telah menggunakan alat-alat transportasi yang canggih sesuai pilihannya. Berkomunikasi jarak jauh atau antar ruang bisa lewat handphone, CCTV, computer genggam, dll., sebagai wujud komunikasi dalam ruang virtual (ruang maya).
Kini sifat dan kondisi tubuh manusia, cara mobilitas, berkomunikasi, dan alur yang dilaluinya di dalam siklus kegiatan, umumnya juga mempengaruhi pola kehidupan social dimasyarakat. Tentu pada akhirnya terkait dengan bentukan ruang-ruang privat maupun ruang-ruang publiknya. Keadaan tersebut berhubungan dengan dengan tindakan, relasi, struktur dan system social yang berlangsung di dalam ruang-waktu. Perihal inilah yang sudah mulai merambah pelosok negeri, termasuk Bali, terutama di kawasan perkotaan.
*****
BEBERAPA waktu lalu sempat merebak wacana tentang usulan rencana apa yang ideal dibangun dan dilaksanakan serta dilakukan dalam pembangunan daerah Bali. Hingga sempat muncul ketika itu statemen mengenai arsitektur gedung, yakni tentang perlunya zone gedung tinggi. Ketika itu terkuak usul atau keinginan untuk memperbolehkan membangun gedung tinggi di atas 15 meter.
Berbicara tentang bangunan gedung tentu tak dapat dipisahkan dengan ruang arsitektural, termasuk wujud atau wajah asitekturnya. Utamanya kota-kota besar di Indonesia. Makna ruang rupanya mengalami pergeseran persepsi, sejalan dengan pemampatan, peringkasan ruang waktu dan pemadatan tindakan setiap kegiatan yang dijalani banyak orang. Nyaris semua aktivitas dijejali oleh tuntutan kecepatan waktu, efisiensi, dan ketergesaan. Kecenderungannya, di zaman informasi dan virtual kini ada upaya manusia untuk memiminimalisasi dimensi fasilitas dan ukuran ruang-ruang geraknya.
Perubahan pola hidup dengan sendirinya turut mempengaruhi pola ruang, waktu, fasilitas dan lingkungannya. Kenyataan kini, terutama di kota-kota besar, banyak kegiatan social tidak memerlukan lagi perpindahan fisik seseorang. Seperti belanja (teleshoping), rapat (teleconference), menonton (telecinema), belajar (telelearning), dan sebagainya. Lantas, orang-orang pun kini sudah bisa mengakses bahan-bahan kepustakaan melalui internet, membuka situs-situs pilihannya. Pun penyimpanan arsip mendatang sepertinya, bukan lagi mengarah pada penumpukan berkas di rak-rak almari. Tapi sudah menuju pada compact flash sampai secure digital yang mampu menyimpan amat banyak data, baik berupa naskah, foto, musik, atau video player lainnya.
Melihat keadaan seperti ini, perlukah di masa datang disediakan atau ditambah lagi ruang-ruang public (gedung) yang besar berlantai banyak? Guna memperoleh solusi, semua itu tentu perlu dianalisis secara komprehensif atau menyeluruh, untuk kesinambungan konsep yang bisa diterima oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Pembentukan ruang sangat bergantung pada berbagai kondisi tempat yang membentuknya: alat untuk mobilitas, media untuk komunikasi, fisik/badan, sifat-sifat fisik lingkungan atau atmosfir di sekitar, bahkan (sangat penting) kultur lokal setempat. Ruang tersebut dapat saja berupa sebuah ruang perkantoran, pabrik, kamar di dalam suatu rumah, sampai pada wilayah yang dibatasi secara territorial oleh batas-batas desa atau kota. Semua itu senantiasa meruang dan bersifat fisik. Dalam ruang-ruang inilah berbagai rutinitas aktivitas berlangsung.
Dalam konteks pembutuhan ruang di era informasi kini, sudah relevankah di Bali dibangun gedung-gedung berketinggian lebih dari pohon kelapa? Sementara di sisi lain, dunia kini tampak mulai mengalihkan perhatiannya pada upaya untuk meminimalisasi besaran gedung-gedung publiknya. Adakah itu akibat pemampatan ruang waktu dan tindakan setiap aktivitas di era informasi digital dan virtual kini?
*****
SEKARANG, sudah mulai ada berbagai model aktivitas social, yang di dalamnya tidak diperlukan lagi perpindahan fisik, namun bisa dilakukan model perpindahan virtual, yakni perpindahan informasi. Melalui internet, handphone, teleconference, berlangsung suatu pergerakan yang sebenarnya berdiam diri di tempat. Fenomena ini semakin memberi kecenderungan, di dalam melakukan berbagai kegiatan, pola kehidupan sosial si pelaku aktivitas.hanya berdiam diri di tempat, lantaran di sisi lain informasiakan bergerak mendatanginya.
Boleh jadi, keberadaan dunia virtual, selain merupakan perpanjangan hampir setiap aspek kehidupan manusia-tindakan, aksi, reaksi, komunikasi, juga dimaknai sebagai “penyambung lidah” dalam sistem komunikasi antarmanusia. Nah, di era informasi digital sekarang ini--terutama di kota-kota besar—orang telah mulai dapat melakukan aktivitas social, politik, ekonomi, dan lain-lain dalam jarak jauh (telepresence) tanpa harus melakukan proses perpindahan di dalam ruang waktu.
Apa yang tersirat dan tersurat tersebut pada dasarnya menyangkut perubahan yang bersinergi ke dalam proses kedinamisan ruang, menyebabkan suatu bentukan arsitektur mengalami transformasi. Dengan kata lain, orang tidak akan melihat suatu bentukan arsitektur itu sebagai suatu yang “berdiri sendiri”. Namun sebagai suatu tampilan yang “mampu berkolaborasi” dengan lingkungan sekitarnya.
Betapa pun luas jangkauan perkembangan itu, tentu harus dikorelasi lagi dengan konsepsi filosofis Tri Hita Karana, Rwa Bhineda, hulu-teben, nilai-nilai dan pemaknaan arsitektural, yang selama ini diejawantahkan di tengah komunitas arsitektur Bali tradisional, yang kini kian didekati sergapan arus globalisasi. Ihwal tersebut tentu perlu disikapi secara arif dalam bentuk penataan tata ruang arsitektural, wajah arsitektur kota dan bentukan arsitektur lainnya, dari makro, meso, hingga mikro.
Maka dalam hal ini, yang perlu dipegang sejatinya adalah mempertahankan identitas. Menyimpan “ruh” jati diri ke-Bali-annya, sehingga esensi bentukan arsitektur Bali Tradisional itu merasuki gubahan arsitekturnya. Kendati di satu sisi konsepsi maupun visualisasi bentuknya senantiasa leluasa “menyesuaikan diri” dengan perkembangan zaman, di era informasi digital dan virtual saat ini.
I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 12 Juni 2005
Pura Beji Sangsit, Unik dengan Ragam Hias khas Buleleng
Unik dengan Ragam Hias khas Buleleng
Membangun kearifan local di suatu daerah tentunya mesti berakar dari potensi alam dan budayanya. Semisal upaya pelestarian pengembangan geliat khas ragam hia, nilai-nilai histories, estetis religius pada banyak arsitektur pura di Buleleng. Salah satu pura yang mewakili kekhasan tersebut adalah Pura Beji, Sangsit, Buleleng. Apa saja yang bisa ditelusuri dari keberadaan pura ini?
Pura Beji yang terletak di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng dan berada di sekitar 8 km di sebelah timur kota Singaraja ini punya keunikan tersendiri. Pura ini memiliki gugus-gugus massa bangunan suci sangat massif dan sarat dengan ukiran khas gaya Buleleng.
Konon dulu , sebelum era kedatangan Dang Hyang Nirartha, kawasan Bali utara atau kabupaten Buleleng dikenal sebagai wilayah Den Bukit. Pada awalnya kehidupan manusia di Bali, keberadaan mereka bermula hidup di wilayah Buleleng timur. Pada saat itulah diperkirakan awal kemunculan konsep “Padma Bhuwana” dalam penataan pura-pura di Bali. Khususnya di daerah Buleleng timur. Salah satu pura yang termasuk di dalamnya adalah Pura Beji Sangsit.
Sebagaimana pernah diungkap oleh Ida Pandita Nabe Sri Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, pura-pura yang disebutkan masuk dalam konsep penataan itu, yakni Pura Panegil Dharma, pura-pura yang ada di Desa Bulian, Pura Meduwe Karang, Pura Dalem Puri, Pura Gunung Sekar (Guruyang/Guru Hyang), Pura Beji, Pura Pasupati, Pura Air Sanya (Air Sanih) dan Pura Bukit Sinunggal.
Disebutkan pula, pada zaman Kesari Warmadewa, Pura Besakih belum ada. Dalam perkembangannya setelah kedatangan Mpu Kuturan, disusul kemudian dengan kedatangan Dang Hyang Nirartha di era Dalem Waturenggong, keberadaan pura-pura berkonsep “Padma Bhuwana” ditata kembali lebih dalam lingkup wilayah seluruh Bali. Seperti berkembangnya Pura Besakih dan berdirinya pura-pura Kahyangan Jagat lain yang ada sampai saat ini. Di antaranya yang termasuk pura Kahyangan Jagat seperti Pura Luhur Batukaru, Tanah Lot, Uluwatu, sampai Goa Lawah.
Dikisahkan pada zaman Waturenggong, wilayah Buleleng timur dianggap daerah yang tidak patut dihuni. Bahkan ketika itu menjadi tempat pembuangan, termasuk tempat pengasingan Ki Anglurah Panji Sakti. Namun belum ada data pasti, kapan tepatnya peristiwa itu terjadi. Terlepas dari itu lingkungan Pura Beji yang dikenal sebagai pura subak untuk desa pakraman Sangsit ini dikatakan sebagai lingkungan pura untuk memuja Dewi Sri – dewi yang diyakini berhubungan dengan bidang pertanian, menciptakan padi sebagai bahan makanan pokok, dan pemberi kemakmuran.
Ihwal itu rupanya berhubungan dengan bentuk ragam hias yang dimunculkan pada segenap bagian bangunan suci Pura Beji. Motif bunga atau tetumbuhan rambat membungkus gugus-gugus bangunan atau palinggih yang ada di situ. Di awal dari candi bentar, kori agung, hingga seluruh bangunan pemujaan, sarat ukuran motif bunga berciri khas style Buleleng: cukilan lebar, dangkal tapi runcing.
Ajaran Filsafat
Tumbuh-tumbuhan atau bunga yang digunakan sebagai motif ukiran di Pura Beji sesungguhnya merupakan sebagai salah satu manifestasi ajaran filsafat (tatwa) agama Hindu, ditampilkan melalui simbol-simbol relief yang sacral. Motif bunga berdigestilir sulur-suluran tetumbuhan secara filosofis melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
Tatanan Pura Beji itu sendiri terdiri dari tiga area (mandala) yakni jaba sisi, jaba tengah, dan jeroan. Pada jaba sisi terdapat bale kukul yang sudah mengalami modifikasi style ragam hiasnya. Antara jaba sisi dengan jaba tengah dihubungkan oleh candi bentar yang masih tetap menunjukkan kekhasan ragam hias Buleleng. Di halaman jaba tengah, di sisi utaranya ada bale paebatan dan bale saka roras. Sementara di sisi selatannya berdiri bale sakapat dan sakaulu. Semua bangunan itu bertiang kayu, beratap seng.
Memasuki halaman jeroan, ada candi kurung (kori agung) dengan bebetelan di kiri kanannya. Motif bunga pada ukirannya juga sangat mendominasi seperti yang terdapat pada candi bentar. Di bagian belakang kori agung ada aling-aling yang pada bagian atasnya berbentuk lengkung. Di halaman jeroan itu juga ada bale gong (saka kutus beratap seng), gedong simpen (beratap seng), bale pesamuan atau disebut jajar samah (saka roras beratap ijuk), dua bale piasan (saka nem, di kiri-kanan, beratap sirap), gedong agung (beratap ijuk, pada keempat bubungannya terdapat relief naga) yang pada puncak atapnya berdiri patung (ukuran kecil) bidadari bersayap.
Di sisi kiri dari gedong agung terdapat palinggih gedong Ida Batara Dewa Ayu Kesaren berdampingan dengan palinggih padma Dewa Bagus Ngurah Pengastulan. Paling pojok timur laut ada palinggih padma Dewa Bagus Ngurah Beraban (di dalamnya terdapat jajaran/pasimpangan). Menurut salah satu pemangku setempat, bahan yang digunakan untuk bangunan suci itu – termasuk candi bentar, kori agung dan tembok panyengker puranya-adalah paras asli (“paras Sangsit”) dari Banjar Abasan.
Kegiatan Spiritual
Melalui keberadaan arsitektur Pura Beji yang “spesifik”, boleh dikata itu merupakan media komunikasi bagi masyarakat. Lewat makna yang tersirat melalui tampilan bentuk dan ukirannya, arsitektur Pura Beji merupakan wadah kegiatan spiritual, sebagai produk dari kebudayaan, pemberi kejelasan jati diri atau identitas.
Pura Beji boleh jadi dibangun melalui proses kesepakatan masyarakat Bali ketika itu dengan ar rancangan yang holistic dari para undagi di zaman dulu. Mereka telah melihat kebutuhan dasar spiritual komunitas masyarakat setempat, perasaan teritorial, perasaan memiliki dan penghormatan tulus pada semesta ciptaan Yang Esa. Perwujudannya mewakili norma-norma dan ekspresi estetik kecintaan manusianya pada isi alam semesta, pelengkap dan pemberi kehidupan.
Melihat manusia ke dalam dimensi perilaku religiusnya, merupakan sebagai salah satu elemen program rancangan para undagi tempo dulu. Selain pandangan tentang hidup, hubungan manusia dengan alam, pengalaman misteri, yang semua itu sebagai bagian dari dasar-dasar sikap manusia dalam melakukan aktivitasnya. Adanya sawah, hunian dan lain-lain, di satu sisi merupakan bagian dari elemen fisik lingkungan yang mempengaruhi terwujudnya arsitektur pura pada tempat tersebut.
Maka sesungguhnya jati diri yang dimiliki Pura Beji ini membawa misi bagi pelestarian warisan budaya Bali. Yang harus dipelihara dengan senantiasa menerapkan konsep kesatuan social yang mendukung upaya kemajuan peradaban Bali. Pada akhirnya tentu mesti bermuara pada upaya konservasi terhadap keberadaan Pura Beji, baik dilihat dalam lingkup konservasi satuan fisik (kesatuankelompok bangunan dengan identitas fisik) yang mampu “menjelaskan” secara rinci mengenai latar belakang fisik bangunan Pura Beji maupun wilayahnya. Atau pun termasuk dalam satuan pandangan visualnya, suatu identitas visual dalam satu wilayah , yang menjadi citra dari wilayah itu.
Lingkungan Pura Beji sebagai salah satu karya arsitektur bersejarah yang religius mesti tetap berada pada lokasi historisnya, serta menjaga latar visual semula yang sudah selaras, seperti pola, bentuk, skala, warna, tekstur, bahan dan ragam hias bangunan suci atau bangunan pelengkapnya. Ragam hias Pura Beji Sangsit memang punya ciri khas, pemberi jati diri arsitektur puranya.
I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 13 Mei, 2007
Tembok ''Panyengker'' Tak hanya Pembatas Lahiriah, juga Spiritual
-------
TEMBOK panyengker merupakan bagian dari elemen arsitektur. Keberadaannya sangat perlu, selain sebagai batas lahiriah, juga batas aktivitas spiritual "isi" pekarangan, mengitari pekarangan paumahan, zona parhyangan atau bangunan-bangunan publik lainnya. Melindungi ragawi maupun batin, memenuhi syarat kekokohan dan keamanan. Penghuni di pekarangan dalam tembok panyengker diupayakan terlindung dari gangguan binatang, cuaca, dan pun terhadap gangguan lainnya.
Mewujudkan panyengker adalah dengan melakukan pengukuran sebelumnya. Ukuran atau sikut memiliki pengertian volume, bobot dan nilai dari satuan panjang, lebar, tebal, tinggi, atau garis-garis ukur lainnya. Satuan ukuran dalam pengukuran arsitektur Bali-tradisional diperoleh dari bagian-bagian tubuh manusia selaku pemilik. Pada bangunan Bali tradisional, menguku
Sudut-sudut pertemuan antara tembok panyengker disebut padu raksa. Secara filosofis-etis, padu raksa tersebut memiliki nama masing-masing berdasarkan titik sudut peletakannya, seperti sari raksa (terletak di sudut timur laut), aji raksa (di tenggara), rudra raksa (sudut barat daya) dan kala raksa berkedudukan di barat laut. Padu raksa memiliki bagian-bagian yang diidentikkan sebagai kepala, badan dan kaki, lengkap dengan hiasan atau pepalihan-nya.
Pengertian dan Karakter
Menurut Ir. I Wayan Gomudha, M.T., panyengker berasal dari kata sengker yang artinya "kurung". Kurung itu sendiri memiliki pengertian (1) sebagai tanda untuk mengumpulkan beberapa unsur menjadi satu kelompok yang membentuk satu unit hunian; (2) mengkonotasikan suatu keberadaan di dalam rumah, kamar/bilik/sangkar; dan (3) melindungi dan mewadahi segala sesuatu yang ada dalam kurungan. ("Pernik Manik Spasial Hunian Arsitektur Tradisional Bali, 1999). Sementara dalam "Kamus Bali Indonesia" (Ida Bagus Nyoman Jiwa, 1992), panyengker disebut sebagai batas pekarangan pada keempat sisi, bisa dengan pagar hidup atau tembok pasangan.
Dari sebidang tanah yang paling kecil sekalipun, panyengker berperan sebagai batas wilayah, bukan sekadar pagar biasa, namun sebagai tempat terakumulasinya unsur-unsur fisik pembentuk hunian beserta aura psikologis-religiusitas penghuninya. Terlebih bila panyengker tersebut dilengkapi padu raksa dan pintu gerbang masuk (angkul-angkul, kori agung, candi bentar, dll). Hal itu menunjukkan adanya suatu kesatuan unit arsitektural (umah, puri, pura). Kadang dari bentuk, ragam hias atau tampilannya dapat menunjukkan status penghuninya.
Selain berfungsi sebagai pelindung dari pandangan (penglihatan) atau privasi, panyengker punya karakter melindungi dan mewadahi, dalam artian sebagai pelindung untuk segenap isi dari kemungkinan yang membahayakan, baik secara sekala (nyata) maupun niskala (tak nyata).
Keadaan ini menunjuk pada suatu upaya untuk memberi batas secara visual (fisik) maupun imajiner (nonfisik) atas perbedaan makna aktivitas, antara yang berada di dalam pekarangan (milik penghuni) dengan kegiatan publik (di jalan) di luar pekarangan (milik masyarakat keseluruhan). Demikian pula sebagai segmen perlindungan diri dari privasi penghuni terhadap "dunia luar".
Perlindungan dalam pengertian terhindar dari sesuatu yang bersifat fisik -- karena berbatasan dengan jalan publik, setelah telajakan -- dan privasi dalam pengertian agar kegiatan-kegiatan yang bersifat intern (profan maupun sakral) tidak terlalu vulgar nampak dari luar, mengingat pada norma-norma dan tata krama yang berlaku di tempat atau lingkungan tersebut. Hal ini dimaksud guna lebih bisa mewujudkan konsentrasi di dalam melakukan kegiatan yang bersifat privat, sehingga tidak terganggu pandangan publik dari luar (jalan). Naluri manusia pada dasarnya menghendaki suatu tempat yang nyaman, nikmat dan terlindung bagi dirinya serta lingkungan terdekatnya terlebih dahulu, menuju terciptanya harmoni kehidupan yang damai dan sejahtera.
Di Ruang Publik
Seperti yang disebutkan sebelumnya, panyengker juga terdapat pada ruang publik seperti taman rekreasi, kebun binatang, tempat peribadatan, pasar, taman budaya. Berbagai style atau gaya dimiliki oleh masing-masing kabupaten di Bali. Ada gaya Bebadungan, gaya Gianyar, Klungkung, Buleleng, dan sebagainya. Bentuk maupun jenis material yang digunakan mesti disesuaikan dengan karakter dari fungsi yang diwadahinya.
Dalam suatu tapak (sit
Oleh karena itu, panyengker bukan sakadar pagar pembatas hanya untuk perlindungan dalam arti fisik semata, namun lebih dari itu bisa memberikan nilai-nilai komunikatif, "ramah" lingkungan -- sepadan fungsi ruang publik tersebut. Untuk itu, keberadaan tembok panyengker bisa didesain dengan mempertimbangkan faktor ketinggian, aspek transparansi (perlubangan), etika, estetika.
Mengenai ketinggian tentu dengan memperhatikan unsur-unsur kegiatan yang diwadahi, suasana yang diinginkan, pertimbangan pengalaman psikologis pengguna ruang. Dalam merancang tapak sebenarnya ada formulasi tertentu menempatkan dan mengatur ketinggian panyengker, terutama bila dibangun pada ruang-ruang yang bersifat publik. Ada yang berketinggian sebatas lutut, berfungsi pula sebagai pola pengarah, pembatas yang menunjukkan aktivitas di dalam yang berbeda dengan aktivitas yang terdapat di luar, namun masih ada view (pandangan) ke arah ruang sebelahnya, tidak ada privasi yang disembunyikan serta memiliki nilai komunikatif. Kemudian, ada pula setinggi di bawah pinggang manusia, di sini sebagian aktivitas di dalamnya masih terlihat dari luar.
I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 24 Juli 2005.
Pura Dalem Jagaraga - Buleleng, ''Saksi'' Perang, Prosesi Religius dan Keunikan Arsitekturnya
DI Pura Dalem inilah Jero Jempiring -- istri patih I Gusti Ketut Jelantik -- bertahan sebagai sentra perlawanan, menghadang serangan musuh, tatkala benteng Jagaraga yang berjarak sekitar 200 meter dari pura ini diduduki Belanda. Jero Jempiring dikenal luas lantaran berhasil mengatur jalannya pertempuran di sekitar Pura Dalem Jagaraga pada 1848, selaku komando dan penyala semangat laskar Bali saat menghadapi Belanda.
Konon wilayah Buleleng atau Bali utara kerap dikatakan sebagai wilayah yang senantiasa bergolak sejak abad ke-17 hingga ke-20. Kehidupan masyarakatnya yang dinamis menyentuh pergaulan multikultur. Saat itu kerajaan Buleleng memiliki rakyat yang dalam komunitas kehidupannya sangat heterogen dibanding wilayah-wilayah di kabupaten lain, misalnya bisa disebutkan adanya etnis-etnis Bugis, Cina, Arab, Jawa, Madura, dan Makassar di kawasan ini.
Akan halnya desa Jagaraga, dulu sempat kesohor sebagai ajang proses pembinaan dan penciptaan kreasi tari dan tabuh, di antaranya seperti terciptanya tarian "Teruna Jaya" dan tabuh "Palawakya" oleh Gde Manik bersama Pan Wandres. Jauh sebelumnya lagi merupakan sebagai tempat berdirinya benteng Jagaraga yang dibangun oleh pahlawan Nasional, Patih I Gusti Ketut Jelantik menjelang perang Jagaraga yang kedua. Mungkin lantaran kondisi geografis yang strategis, Desa Jagaraga telah berfungsi sebagai titik persinggahan pada akhir abad ke-18 bagi laskar-laskar kerabat kerajaan dari Kabupaten lain yang bergerak dari ibukota mereka ke Buleleng.
Desa yang diapit sungai (tukad) Gelung Sangsit di sebelah barat dan Tukad Daya di sebelah timurnya ini, berada pada ketinggian sekitar 100 meter dari permukaan laut dan berjarak hampir 5 km dari pantai pesisir laut utara. Di sebelah selatan desa ini -- yang kedudukan tanahnya kian meninggi -- terletak Desa Sawan, Menyali, Bebetin, Sekumpul dan Lemukih. Selain adanya benteng pertahanan yang dibuat ketika itu, sejatinya Desa Jagaraga sudah merupakan benteng alami, dikitari banyak pebukitan kecil dan sungai.
Di zaman silam, untuk mencapai Jagaraga dari Singaraja mesti melintasi empat sungai yang relatif besar dan curam. Strategisnya desa ini juga lantaran gampangnya lintasan ke daerah Batur ketika itu, baik melalui Desa Galungan dan Lemukih maupun lewat jalan Pakisan. Desa ini pun merupakan simpul pertemuan antara desa Bungkulan dan Menyali. Kini, dengan adanya perkembangan prasarana dan sarana transportasi, Jagaraga dapat dicapai dengan mudah dari segala arah.
Religius-Spiritual
Tak kurang sejak 40 tahun sebelumnya, hingga pecah Perang Buleleng 1846, proses penyatuan komunitas Jagaraga berjalan damai dan lestari. Bisa jadi mayoritas tetua moyang kalangan Bangsawan yang punya peran penting dalam Perang Jagaraga telah berdomisili di desa ini sejak kekuasaan wangsa Karangasem berjaya di Singaraja, di awal abad ke-19, yang kemudian bersama-sama rakyat desa setempat berjuang menentang penjajah.
Alkisah, di saat Singaraja jatuh pada pertengahan tahun 1846, tersebutlah patih I Gusti Ketut Jelantik memindahkan markas perlawanannya ke Desa Jagaraga. Idenya muncul untuk membangun benteng ala Barat nan canggih sebagai markas pertahanannya. Benteng ini terletak hanya sekitar 200 meter dari Pura Dalem Jagaraga. Kedekatannya dengan lokasi Pura Dalem ini dapat disebut sebagai perwujudan sistem pertahanan "duniawi-rohani" religius-spiritual. Dan, posisi benteng Jagaraga dianggap sebagai lini terdepan dalam kawasan kekuasaan sakti Dewa Siwa -- sebagai manifestasi Tuhan -- yang melambangkan kehancuran dan pralina bagi musuh atau Belanda yang berani menyerbu desa ini. Sementara istana berada di pusat desa, di muka Pura Desa.
Persiapan perang yang dilakukan laskar Bali di bawah pimpinan Patih Jelantik kala itu dapat dikatakan sebagai upaya membangun kekuatan melalui ranah religius spiritual berlandaskan ajaran agama Hindu yang diyakininya. Dalam kondisi genting seperti itu, keberadaan Pura Dalem memiliki keterkaitan sangat erat dengan Pura Desa dan Merajan Agung milik kalangan brahmana, komunitas Pande Besi di Banjar Pande dan keberadaan Patih Jelantik di bilangan belakang Pura Desa Jagaraga.
Prosesi itu bertujuan membangkitkan spirit perjuangan dalam rangkaian upacara masupati (memberi kekuatan gaib dan kesucian) yang dilakukan oleh Patih Jelantik bersama para pejuang di Merajan Agung. Usai di-pasupati, senjata-senjata itu konon secara magis "dihidupkan" kembali, serta siap digunakan. Lantas, berbagai senjata itu - dari tempat penyimpanannya, diarak menyeberang jalan di muka Pura Desa, melintasi Puri, bergerak ke depan hingga tiba di wilayah belakang perbentengan (dekat Pura Dalem Jagaraga), seterusnya menempati posisi masing-masing memperkuat benteng Jagaraga.
Pasukan bersenjata yang sudah di-pasupati itu pun bergerak melingkar ke arah kanan (searah putaran jarum jam). Dalam mitologi Hindu kerap dinamakan gerakan pradaksina. Arah gerakan ini bermakna membawa keberuntungan serta diyakini memiliki kekuatan-kekuatan magis-spiritual, menambah energi dan daya keampuhan bagi senjata tersebut. Pola serangan melingkar itulah diterapkan di medan pertahanan Jagaraga.
Singkat cerita, Perang Jagaraga berakhir menjelang senja pada 16 April 1849, dengan menelan banyak korban di kedua belah pihak. Menurut perkiraan, sekitar 2.700 orang laskar Bali gugur dalam perang itu. Sementara korban di pihak Belanda lebih dari 400 orang, termasuk beberapa perwira menengahnya.
Keunikan Pura.
Konon Raja Buleleng I Gusti Made Karangasem beserta para pengikutnya juga bermarkas di Pura Dalem ini selama terjadinya pertempuran. Solidnya pertahanan ketika itu juga diperkuat oleh pasukan pecalang yang dikoordinir Jero Jempiring. Seorang perempuan, istri patih yang patriotik, pejuang andal nan gagah berani. Peran dan kontribusinya dalam kemenangan pihak Bali pada Perang Jagaraga I sangat besar, menyebabkan strategi perbentengan Patih Jelantik hidup dan berfungsi dengan baik ketika itu.
Pura Dalem Jagaraga yang piodalan-nya jatuh setiap Umanis Kuningan, wuku Langkir ini merupakan bagian dari Pura Kahyangan Tiga yang ada di Desa Jagaraga. Tempatnya berseberangan jalan dengan kuburan (setra). Pura ini menghadap ke Barat. Tapak atau site-nya memanjang dari barat ke timur. Pekarangan pura dibatasai tembok panyengker sekelilingnya. Pada jaba sisi - sebelum memasuki jaba tengah - terdapat candi kurung atau gelung kori yang khas bentuk maupun ragam hiasnya. Relief atau pepatraan-nya sangat otentik dan memiliki ciri tersendiri. Liang takikan ukiran tidak dalam, tapi melebar dan cenderung meruncing.
Di kiri kanan dari gelung kori atau candi kurung ini terdapat betelan (pintu samping kecil) yang bagian dalam atasnya melengkung. Jarak antara gelung kori maupun betelan terhadap tepi jalan amat dekat - kurang dari dua meter. Memasuki jaba sisi, di dalam halamannya terdapat bangunan bale gong yang berdenah segi empat panjang dan beratap seng, serta bale pawaregan yang juga beratap seng. Uniknya, sebelum memasuki halaman jeroan inilah baru bisa ditemui candi bentar. Di kiri kanannya juga terdapat pintu betelan, bentuknya nyaris serupa dengan betelan di luar yang membatasi jaba sisi dengan jaba tengah. Lubang pintu bagian atas berbentuk lengkung. Pada halaman jeroan inilah berdiri antara lain palinggih Sapta Petala di area kelod kangin, gedong Prajapathi, padmasana dan gedong Ida Betara Dalem yang semuanya berjajar di timur. Di sebelah baratnya masing-masing terdapat taksu, bale pengaruman dan bale piasan.
Keunikan yang dimiliki oleh arsitektur Pura Dalem Jagaraga ini merupakan salah satu aset arsitektur yang ornamentik atau dengan ragam hias yang unik dan otentik. Begitu pula kehidupan sosio-religius masyarakatnya. Semua itu sepatutnya senantiasa dinaungi oleh denyut-denyut pelestarian tradisi yang dijiwai nilai-nilai patriotisme, kebersamaan dan persatuan dalam berkehidupan atau bermasyarakat. Terlebih keberadaan pura ini juga menyimpan nilai-nilai historis perjuangan rakyat Buleleng melawan penjajah (Belanda) tempo dulu. Pelestarian nilai-nilai dan tampilan wujud arsitekturnya turut berperan di dalam menanamkan nilai-nilai moral yang arif secara berkelanjutan.
Di Mana Benteng?
Sekarang, orang-orang yang berniat mengenang kisah perjuangan rakyat Buleleng tersebut tidak bisa lagi menyaksikan sisa-sisa peninggalan benteng Jagaraga yang sebelumnya digunakan sebagai benteng pertahanan rakyat saat Perang Jagaraga. Khususnya bagi orang-orang yang ingin menyaksikan secara langsung tempat, site, atau tapak berdirinya benteng tersebut. Titik lokasi benteng kini tak berbekas lagi, rata tanah, ditumbuhi rumput, semak-semak dan pepohonan.
Guna lebih mengenang peristiwa bersejarah, sudahkah ada upaya dari pemerintah daerah setempat maupun dari masyarakat Buleleng untuk membangun sebuah "tanda" atau monumen - kendati tak monumental - di area bekas benteng Jagaraga ini? Sebuah tanda bermakna, tidakkah perlu diwariskan pada generasi penerusnya?
Dari sisi yang lain, pelestarian arsitektur Buleleng pada khususnya, selain tetap menyesuaikan dengan perkembangan zaman di era informasi digital dan virtual dewasa ini, maka ada baiknya untuk senantiasa menggali atau mengeksplorasi pola, tatanan ruang-ruang arsitektural dan ornamen atau ragam hias yang khas dimiliki.
Adanya pemukiman tradisional Desa Julah, Sembiran, Sidatapa, Tigawasa dan lain-lain adalah beberapa di antara yang memiliki kekhasan tersebut, bisa dipakai sebagai referensi kajian.
Begitu pula banyak pura yang dulu dibangun memiliki karakter khas dalam tampilan bentuk maupun ornamen serta ragam hiasnya. Bukankah ini suatu aset yang bisa dikaji kembali, atau dikembangkan, tanpa menyisihkan "roh" yang terkandung di dalamnya? Mungkinkah ciri-ciri spesifik itu bisa diadopsi ke dalam beberapa rancangan arsitektur di kota Singaraja khususnya atau Buleleng umumnya, yang bisa memberi nuansa atau citra lokal? Dapatkah Buleleng (atau Singaraja) dikatakan sebagai salah satu kota di Nusantara yang banyak menyimpan bangunan peninggalan bersejarah, atau yang beralkulturasi dengan budaya berbagai etnis - Belanda, Cina, Arab, hingga Bugis?
Zaman terus bergulir, tapi kadang melalui kenangan pula keberadaan wujud visual arsitektural turut memberi nilai-nilai pencerahan moral manusia, menuju peradaban yang lebih bijak dan mulia. Tempat di mana bercermin dan merefleksi diri, merenung sesaat atau berkontemplasi. Salah satunya, memberi makna akan keberadaan peninggalan-peninggalan arsitektur yang bernilai historis-religius. Penghargaan terhadap pelapisan makna yang tersingkap dan kandungan nilai-nilainya, adalah pula suatu upaya melanggengkan spirit patriotisme, kejujuran, kearifan pikir dan tindakan, serta meluhurkan budi pekerti, menuju pada kualitas moral manusia yang lebih baik.
I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 17 April 2005.
Melacak ''Hong Sui'' dalam Arsitektur Bali
-----------------
SELINTAS, jika merunut perjalanan popularitas hong sui, mungkin dapat disimak dari fungsi dan manfaatnya dalam kehidupan serta orang-orang yang mempublikasikan tentang keunikan yang ada di dalamnya. Sehingga, hong sui memasyarakat hingga ke negeri Eropa selain ke negara-negara Asia.
Hong sui berasal dari kata hong yang berarti "angin" dan sui berarti "air". Makna lain hong sui itu lebih menekankan pada tata letak bangunan yang memiliki potensi chi (hawa) sejati. Punya kemiripan dengan ketentuan yang dituangkan dalam aturan tata letak tanah dan bangunan dalam arsitektur Bali. Seperti disebutkan dalam sastra Hindu, bangunan yang didirikan akan memacarkan vibrasi (getaran). Vibrasi itu dapat bersifat baik (positif) atau tidak baik (negatif), tergantung benar-salahnya seseorang meletakkan suatu bangunan.
Asal hong sui dari Tiongkok, lantas berkembang ke Jepang, diakui dan dipergunakan sebagai pedoman untuk pembangunan istana-istana raja. Dalam tradisi Tiongkok, pemahaman tata letak dari gedung dan tempat bermukim punya arti yang sangat penting. Mesti ada penentuan letak gedung, luas dan pedoman kota maupun tempat hunian itu sendiri secara komprehensif (utuh dan menyeluruh). Hong sui dibagi dalam yang che (rumah yang) sebagai bangunan yang dihuni oleh manusia, dan yin she (rumah yin) atau tempat pemakaman.
Sementara dalam asitektur Bali, bentuk dan tata letak tanah atau pekarangan (beberapa ketentuan tentang baik buruknya) untuk tempat tinggal atau perumahan, diupayakan sesuai dengan petunjuk yang ada dalam lontar "Tutur Bhagawan Wiswakarma", "Bhamakretih", "Japakala" dan "Asta Bhumi" sebagai acuannya. Misalnya, kalau tanah pekarangan pada sisi baratnya agak tinggi (menggik kauh), baik untuk tempat tinggal, yang menempatinya menemukan kebahagiaan.
Contoh lain, pekarangan yang pintu masuknya tepat berhadapan dengan pintu masuk pekarangan orang lain yang berada di depannya, disebut karang nyeleking, pengaruhnya tidak baik. Suatu pekarangan yang berpintu masuk lebih dari satu, disebut karang boros, pun tidak baik. Atau jika tanah/ pekarangan itu merupakan karang bekas pura, paibon, merajan, orang mati gantung diri, peyadnyan sulinggih atau pandita, tak boleh dipakai sebagai tempat tinggal atau perumahan.
Namun, mengapa ketentuan-ketentuan yang ada dalam lontar-lontar sejak dulu itu tak sepopuler hong sui? Apa lantaran ihwal tersebut kurang diaktualisasikan dengan perkembangan zamannya? Atau karena tidak/belum punya "istilah" khusus untuk menamai ketentuan (seperti hong sui) yang tersebut dalam lontar-lontar itu?
Sekala-Niskala
Bila dikaji lebih jauh, pengaruh baik-baiknya maupun upaya yang dilakukan untuk menghindari atau menetralisir pengaruh tersebut, senantiasa mempertautkannya dengan hal-hal yang bersifat fisik, tangible, nyata (sekala) maupun prihal yang intangible, tak kasat mata (niskala). Dengan kata lain ''berkorelasi'' horizontal maupun transendental (vertikal). Ada religiosistas dan proses ritual di dalamnya. Suatu totalitais kearifan dan harmonisasi kehidupan.
Penelusuran dan eksplorasi nilai dan makna yang terkandung dalam ketentuan tata letak tanah dan bangunan bercitra kearifan lokal Bali, kiranya lebih memberi peluang, untuk lebih membuka pemahaman atau penafsiran yang benar tentang tata cara membangun paumahan menurut tafsir (smerti) agama Hindu. Seperti yang ada tertuang dalam lontar-lontar, membuat secara rinci mengenai cara memilih tanah, jenis tanah, tata ruang (spasial) halaman, prosedur membangun hingga upacara yang berhubungan dengan nyakap palemahan dan melaspas bangunan.
Juga ada petunjuk atau ketentuan tentang bagaimana memiliki letak tanah, merujuk pada letak yang baik atau sebaliknya. Semisal, ada tanah yang disebut dewa ngukuhi, tanah atau pekarangan yang dapat memberi rasa damai dan tentram. Jika di sekeliling tak ada tanah yang lebih tinggi sebagai penyandingnya, tanah itu dinamakan asah madya. Hal lain, ada letak tanah yang dianggap tak baik, seperti disebut dengan sandang lawe atau karang negen, yakni tanah yang letaknya tepat berhadap-hadapan di antara dua sisi jalan atau gang, dimiliki oleh satu orang atau satu keluarga purusa (garis keturunan ayah/laki-laki).
Pun ada yang disebut karang suduk angga, tanah atau pekarangan yang letak atau posisinya tertusuk (katumbak) jalan, gang, sungai, got dan tembok panyengker tanah orang lain. Tanah ini tidak baik untuk tempat tinggal, disebut karang panes atau nyakitin. Konon orang yang menempati atau menghuninya akan kerap kena bencana, acap bertengkar lantaran hal-hal sepele, sering kecurian, kena fitnah, diganggu mahluk halus.
Sementara tanah yang berada pada sudut pertigaan jalan/gang, atau setengah dari sisi tanah pekarangannya dilingkari oleh jalan, gang, got atau sungai, disebut karang sulanupi. Jika tanah itu diapit atau dikelilingi jalan raya, gang atau got dinamakan karang kuta kubhanda. Ada pula karang teledu nginyah, bila rumah dikitari oleh jalan melingkar di sekelilingnya. Karang grah, andai pekarangan itu bersebelahan dengan Pura Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan. Lainnya, karang tan maren mahyus grah, menunjuk pada tanah yang serasa panas atau pengap lantaran tak ada udara segar.
Ada lagi yang disebut manyeleking, apabila dalam satu halaman ada beberapa rumah KK (kepala keluarga) yang kawitan-nya berbeda. Jika tanah tempat dibangun rumah itu berseberangan jalan dengan rumah saudara kandung, termasuk tanah yang tak baik pula, disebut amada-mada Bhatara. Begitulah apa yang tersirat dan tersurat, sebagai bagian dari tata cara menata letak tanah dan bangunan.
Begitu pula aturan menempatkan pintu masuk dan memiliki perhitungan tersendiri. Menempatkan pintu masuk ke pekarangan tak boleh asal-asalan, lantaran pintu masuk pun punya pengaruh pada kehidupan saban hari bagi penghuninya. Pintu masuk diyakini sebagai stana Sang Hyang Dorakala. Dora artinya lawang (pintu), kala berarti waktu atau hari. Membuat pintu masuk berdasarkan pada petunjuk lontar "Asta Bhumi", yakni luas pekarangan dibagi sembilan, sesuai arah pintu yang akan dibangun.
Misalnya, andai arah pintu masuk menghadap ke selatan, cara menghitungnya adalah: luas pekarangan atau tembok di sebelah selatan dibagi sembilan. Menghitungnya mulai dari timur ke barat. Pada perhitungan 1, disebut bhaya agung (berbahaya), tidak baik. Hitungan ke-2 berakibat tak bisa punya anak. Hitungan ke-3 dinamakan sukha mageng (besar kebahagiaannya). Titik ke-4, brahma sthana (pengaruhnya baik). Di hitungan ke-5 disebut dewi wredhi (baik), ke-6 sugih rendah (baik), ke-7 teka wredhi yang juga baik, ke-8 kepaten (kematian), dan jika berada pada titik hitungan ke-9 berakibat kageringan (sakit-sakitan).
Begitu pula dibagi 9 untuk tanah yang menghadap ke barat, timur dan utara. Namun masing-masing titik pembagian itu punya perbedaan arti atau makna, tergantung dari posisi menghadapnya tanah atau pekarangan itu terhadap jalan utamanya.
I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 9 Oktober 2005
Kuta Square dalam Bingkai Arsitektur
-------------
KUTA, Bali, merupakan satu ikon pariwisata yang amat dikenal di dunia. Orang yang berwisata ke Kuta pasti akan mengenal kawasan Kuta Square yang letaknya sekitar 10 km dari kota Denpasar, atau 3 km dari Bandara Ngurah Rai, Tuban, itu. Tempat itu merupakan kawasan pertokoan atau pusat perbelanjaan, tumbuh di kawasan pemukiman Desa Adat Kuta. Jalan di depan pertokoan merupakan jalur dua arah. Arsitektur pertokoannya sebagai gabungan dari beberapa buah bangunan di sisi kiri-kanannya, terbagi dalam beberapa ruang (di lantai atas) pada masing-masing toko.
Perkembangan pariwisata memberi tempat pada perubahan pola hidup masyarakat. Perubahan itu secara langsung berkorelasi dengan perkembangan bentuk dan fasad (wajah) arsitekturnya. Sebagai zona perbelanjaan masa kini, pola aktivitas, kebutuhan, fasilitas yang ada di Kuta Square tidak banyak berkaitan dengan fungsi adat istiadat atau pakraman di Bali. Mungkin karena itu pula, wajah arsitekturnya banyak dikemas dengan polesan desain non-Bali.
Tidak Sepenuhnya
Besarnya kekuatan modernisasi terlihat merambah kawasan ini, khususnya yang berhubungan dengan pewajahan arsitektur di Kuta Square. Hal ini menjadikan kawasan ini cenderung "berwajah asing" di tempatnya sendiri. Bentuk dan ornamen non-Bali merasuki. Kuta sebagai sebuah daerah tujuan wisata menerima pengaruh yang cukup kuat dari perkembangan arsitektur modern.
Dalam kenyataan, arsitektur Kuta Square sebenarnya telah berupaya menampilkan wajah lokal dalam usaha menunjukkan ke-Bali-an dengan berbagai cara melalui ragam hias, bentuk, penampilan warna dan bahan serta langgam. Namun, dalam tampilan masing-masing tidaklah sepenuhnya memberi nuansa arsitektur lokal Bali.

Arsitektur Kuta Square sepertinya menyimpan power yang menurut fungsinya digeluti geliat pergerakan ekonomi. Sendi-sendi ekonomi era global yang terbangun itu turut memberi wajah "internasional" pada gubahan arsitekturnya. Untuk itu, guna lebih menyadarkan pengunjung di mana dia berada, pertokoan Kuta Square mungkin bisa lebih di-Bali-kan desainnya, agar tidak memiliki kesamaan "rupa" dan suasana dengan pusat-pusat perbelanjaan di negara lain atau kota-kota besar di luar Bali.
Tata ruang bangunan Kuta Square merupakan satu kesatuan memanjang. Sirkulasi vertikal terletak di dalam bangunan, sementara sirkulasi horizontal, bagian luar berupa selasar, bagian dalamnya disesuaikan dengan penataan barang-barangnya. Bentuk massa bangunan sebagian besar memanjang (linier). Khusus gedung Matahari mendekati bentuk kubus. Komposisi bukaan, semua unit pertokoan menghadap jalan dan menempatkan bagian depan sebagai bukaan terluas. Berbeda bagi Matahari, arah hadap utamanya berorientasi ke tempat parkir, bukan ke jalan. Pintu-pintu utama/depan bagian dalam bangunan pertokoan punya standarisasi bukaan pintu kaca dan di depan. Sementara bagian terluar umumnya memakai pintu falding door atau rolling door.
Hiasan dan Bahan
Pada ragam hias (ornamen dan dekorasi), Kuta Square memiliki beberapa kelompok berornamen Bali (Bali kini) maupun non-Bali. Kandungan ornamen Bali dapat ditemui pada konsol-konsol yang mentransformasikan bentuk sunduk pada toko Animale berbahan beton diprofil.
Sementara ornamen non-Bali terlihat pada entrance hall Matahari Shopping Centre, Atelier Versage, Tourist Information H.I.S., toko Sol, Emporio Armani Jean, Roxy, Noa-noa, dan Sonia.
Beberapa kelompok bangunan menggunakan dekorasi Bali (bentuk lelengisan). Contohnya, toko Mayang Bali dan Polo yang menerapkan dekorasi ukiran Bali, dibuat sangat detail dengan bahan paras Silakarang. Tampilannya sebagai salah satu dari beberapa unit pertokoan Kuta Square yang mencoba mem-Bali-kan sebuah tampilan arsitektur modern. Bangunan y
ang berdekorasi non-Bali dapat ditemui pada toko Volkom, KFC Restaurant, dan Central Station.Bagaimana mengenai bahan? Finishing dinding yang menggunakan bahan lokal bata gosok (pripihan), yakni toko Polo. Toko Rascels menggunakan paras Krobokan dan paras Taro, serta toko Animale mengkombinasikan paras Krobokan dan Silakarang. Toko Lotte menggunakan paras cetak batik dikombinasi bata pripihan.
Bahan finishing dinding non-lokal seperti batu palimanan terdapat pada toko Sonia, bahan glass block di toko Noa-noa. Namun, seluruh struktur bangunan menggunakan bahan beton bertulang, termasuk bangunan Raja's Bar & Restaurant, yang terletak di timur jalan, tempat terjadinya ledakan bom. Banyak bangunan berkaca pada bidang-bidang yang memerlukan pencahayaan alami dan tembus pandang dari luar.
Lantas, dengan warna? Secara keseluruhan, banyak warna yang ditampilkan secara mencolok, misalnya toko Central Station, seluruh dindingnya dicat merah oranye. Toko Price Shop, seluruh dindingnya ditutup billboard merah darah. Toko Volkom, seluruh dindingnya dicat hitam, dan toko Roxy berwarna hijau. Ada pula dindingnya dicat ungu muda seperti toko Everbest. Namun, beberapa kelompok bangunan lainnya menggunakan warna-warni Bali -- natural, warna merah bata dan warna abu-abu paras.
Elemen Pendeteksi
Selain arsitekturnya yang -- sepatutnya -- dibuat bercitra Bali, toko-toko yang ada di situ agar tak berkesan asing di negeri sendiri, juga perlu dipasang elemen pendeteksi. Ini untuk memantau setiap gerak-gerik pengunjung maupun barang-barang yang dibawanya. Misalnya dengan menempatkan kamera pemantau CCTV (Close Circuit Television) pada gedung-gedung publik di kawasan ini maupun untuk kawasan lainnya.
Seorang pengamat teknologi informasi, Roy Suryo mengatakan, ruang umum publik seperti mal, restoran, rumah sakit, stasiun, dan bandara wajib dipasangi kamera pengintai. Rekaman gambarnya tak hanya menjadi bukti tindak kriminal, juga bisa mencegah kejahatan. Dengan adanya CCTV, tingkah laku orang yang mencurigakan bisa dideteksi lebih dini.
Selain CCTV, konon ada pula alat pengintai dan pemantau lain. Salah satunya, "detektor radar". Konon Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengembangkan alat itu.
Pada dasarnya, setiap objek atau benda memiliki frekwensi khas. Maka, bom pun sudah pasti dapat diidentifikasi, kendati ada di balik kerangka mobil atau disimpan dalam ransel. Negara Belanda ditengarai sudah mengembangkan sistem radar untuk mendeteksi ranjau. Sistem pendeteksi juga bisa dipasang pada robot. Alat bersinyal dan berpemancar sinyal ini juga bisa digerakkan (dengan remote control) untuk menyisir kawasan yang dicurigai.
Alat-alat pendeteksi itu pun sepatutnya diletakkan pada sudut-sudut atau bagian tersembunyi, namun punya radius jangkauan luas untuk memantau wilayah yang harus diamankan, Misalnya ditempatkan pada bagian ornamen strukural arsitekturnya, atau pada sudut-sudut elemen arsitektur lainnya. Tentu, selain alat-alat yang perlu disediakan itu, hendaknya tak lupa pula menempatkan alat-alat pemadam kebakaran di ruangan masing-masing.
I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 16 Oktober 2005.
