Sabtu, 11 Juli 2009

Menelaah Kembali Rancangan Pura (2), Dari Turus Lumbung Hingga Kahyangan Jagat

Di Bali khususnya dalam mendirikan suatu pura terlebih pura Kahyangan Jagat senantiasa berlandaskan pada konsepsi filosofis yang relevan dengan ajaran tatwa agama Hindu di Bali. Dari uraian-uraian yang telah dijabarkan sebelumnya, ada tiga landasan konsepsi filosofis.

Konsepsi Rwa Bhineda-kesatuan purusa dan pradana melandasi pendirian Kahyangan Gunung Agung (Besakih sebagai purusa) dan Kahyangan Batur selaku pradana. Sementara konsepsi Catur Loka Pala, pengejawantahan daripada “Cadu Sakti” - empat aspek kemahakuasaan Tuhan, melandasi pendirian Kahyangan Catur Loka Phala-Pura: Lempuyang di timur, Andakasa di selatan,. Batu Karu di Barat dan Puncak Mangu di utara). Konsepsi berikutnya, Sad Winayaka, secara konsepsional terkait dengan Pura: Besakih, Lempuyang, Goa Lawah, Hulu Watu, Batu Karu dan Pusering Jagat.

Ketiga landasan filosofis itu menjadi dasar pendirian Kahyangan Jagat, sebagai Padma Bhuwana, sthana Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Sembilan Kahyangan Jagat itu meliputi Pura Lempuyang di timur, Andakasa di selatan, Batu Karu di barat, Batur di utara, Besakih di timur laut, Goa Lawah di tenggara, Hulu Watu di barat daya, Puncak Mangu di barat laut, dan Pusering Jagat di tengah.

Konsep Rancangan
Di era global kini, ada baiknya menerapkan konsepsi secara holistik terkait dengan aspek-aspek lainnya dalam merancang Pura. Perlu penyesuaian yang adaptatif dengan kondisi dan situasi lingkungan di mana pura tersebut akan dibangun atau didirikan.

Dalam melakukan pendekatan konsep rancangan juga perlu dilakukan beberapa dasar pertimbangan, antara lain kegiatan civitas (manusianya), kebutuhan fasilitas, anggaran yang tersedia, kapasitas pamadek umat Hindu yang tangkil, dan alur atau pola sirkulasi umum, alur / pola sirkulasi khusus ke tempat suci. Lalu dilakukan pendekatan terhadap bentuk rancangan, semisal peletakan kompas yang benar untuk ketepatan arah mata angin/orientasi, menerapkan tata nilai ruang arsitektur Bali, menempatkan patung-patung bermakna, menyediakan wadah aktivitas pejalan kaki dan penyediaan tempat parkir.

Perhatikan pula bentuk pembangunan dan penataannya, semisal posisi penempatan jalan setapaknya. Di sisi lain untuk mengatasi terjadinya banjir (saat musim hujan) pada titik-titik tertentu perlu dibuat sumur-sumur resapan air, selain banyak ditanami pepohonan. Juga pada jalan dekat pura dilakukan penataan saluran air yang ada. Ada baiknya pula jika dibangun tempat untuk mebasuh (cuci) muka atau tangan di jaba sisi selain disediakan tempat mandi dan toilet di area terluar (jaba sisi pisan).
Lantas, bagaimana pendekatan sistem struktur dan utilitasnya?

Ihwal tersebut tentu bisa dipengaruhi oleh faktor kondisi tanah, fleksibilitas ruang, perkembangan teknologi, fungsi bangunan serta kekuatan dan kestabilan. Sementara pendekatan sistem utilitasnya lebih melihat pada kondisi alam, persyaratan fisik dan psikologis pengguna ruang atau fasilitas dan kapasitasnya. Ada baiknya mengutamakan penggunaan bahan lokal/alami, baik untuk struktur maupun finishing. Selain itu agar dipakai bahan yang mampu bertahan lama, mudah dalam pemeliharaan, selaras dan harmonis dengan lingkungan, serta mendukung vibrasi kesucian pura.

Dalam menentukan Pengelompokan pengguna ruang dan besaran ruangnya perlu dipertimbangkan penataan unit jalan lingkungan menuju kawasan pura. Pun unit jalan menuju jaba sisi, jaba tengah dan jeroan pura. Sementara penentuan besaran ruang terkait dengan luas persil atau area, ukuran gerak aktivitas manusia, efektifitas kegiatan, efisiensi penggunaan ruang, efektivitas penataan, persyaratan fisik dan psikologis. Suasana alami-religius hendaknya menunjang masing-masing kegiatan dan sepatutnya tetap menerapkan sistem gegulak. Semua undag (anak tangga) memakai sikut tapak berjumlah ganjil dan ngandang ngurip.

Pura selain berarti sebagai tempat sujud atau tempat persembahyangan, juga sebagai tempat memohon ampun atas pikir, kata dan laku yang keliru dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, serta ucapan terima kasih kepada Hyang Pencipta atas anugerah perlindungan-Nya. Maka, pura sebagai tempat ‘mengusung sembah tulus’ patut dijaga kelestarian dan kesuciannya serta dihormati oleh umatnya. Peranan pura sangat penting sebagai “sentra rohani”, tempat memuja Tuhan dalam berbagai manifestasinya, selain sebagai tempat untuk melaksanakan Dharma Gita, Yatra, Wacana, Tula, Sedana, Shanti.

Bali Post, Minggu, 24 Februari 2008

Menelaah Kembali Rancangan Pura (1) Dari Turus Lumbung Hingga Kahyangan Jagat

Menelaah Kembali Rancangan Pura (1)
Dari Turus Lumbung Hingga Kahyangan Jagat

PULAU Bali juga disebut sebagai ‘Pulau Seribu Pura’. Pura selain merupakan tempat suci Hindu, juga sebagai “sentra rohani”. Apa saja yang melatarbelakangi perkembangannya dan bagaimana sebaiknya konsep rancangan sebuah pura ke depan?

Sumber prasasti kerap menyebut gunung dan bukit sebagai sthana para dewa. zaman dulu, tempat – tempat tinggi di Bali, di hulu atau di tanah bervibrasi suci, orang-orang membuat suatu bangunan peribadatan, meski sederhana dan sifatnya sementara.
Ketika itu tiangnya dibuat dari turus pohon dapdap, dan sebuah ruangan dengan balai-balai dirakit dari bambu untuk tempat meletakkan sajian (sesajen). Bangunan suci jenis ini disebut Turus Lumbung, bermakna kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. Turus dapdap bermakna tameng atau perisai-alat pelindung diri. Sementara “lumbung” mengandung makna: ranah penghidupan. Bangunan yang sifatnya sementara itu lambat laun diganti menjadi bangunan yang lebih permanen.

Perkembangan teknologi, berimbas juga pada bangunan Turus Lumbung, yang semula berbahan sederhana, lalu dibuat dari kayu dan bambu serta memakai satu ruangan (me-rong tunggal), digunakan untuk tempat sesajen. Dari rong tunggal inilah muncul sebutan nama bangunan suci Kemulan yang dipuja suatu keluarga sekelompok kecil. Jika belakangan kepala keluarga kecil sudah berkembang menjadi beberapa keluarga, mereka kemudian mendirikan beberapa buah palinggih.

Seiring perkembangan kultur manusia yang kian maju, bangunan rong tunggal berkembang menjadi dua ruangan (me-rong kalih). Lantas berkembang lagi menjadi tiga ruangan (rong telu), untuk menghormati atau memuja para leluhur yang telah disucikan. Palinggih-palinggih baru disejajarkan tempatnya dengan bangunan Kemulan, sehingga keseluruhannya disebut Sanggah atau Pamerajan. Bangunan-bangunan di dalamnya sangat bervariasi, umumnya terdiri dari bangunan Menjangan Saluang, Gedong, Sanggar Agung, Saka Ulu, dan Taksu.

Perkembangan bangunan rong telu lalu disesuaikan dengan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa), bermanifestasi selaku pencipta, pemelihara dan pelebur. Kesatuan ketiga dewa inilah disebut dengan Sang Hyang Trimurti atau Tri Tunggal. Dari pengaruh konsep ini bangunan rong telu berfungsi ganda, selain untuk tempat memuja arwah leluhur yang telah suci, pun untuk memuja Sang Hyang Tri Murti.

Kahyangan Tiga
Untuk tempat pertemuan Ida Bhatara-Bhatari yang berlangsung pada setiap ada upacara di Sanggah Pamerajan dibuat lagi bangunan balai-balai yang disebut Balai Piyasan (balai untuk Bhatara-Bhatari berhias). Kendati sudah mendirikan Sanggah Kemulan, mereka juga memuja dewa-dewa yang ada di dalam tempat suci aslinya. Dengan demikian, tak bisa dipungkiri jika palinggih-palinggih di dalam Sanggah Pamerajan relatif jumlahnya dan bisa mencapai belasan buah, kadang bisa lebih. Kemudian muncul palinggih-palinggih baru untuk memuja para Dewa, seperti bangunan: Tumpang Salu, Sakapat, Tugu, Meru, Bebaturan, dan Gedong Sari.

Dalam suatu Desa yang terdiri dari beberapa klen atau warga yang berbeda-beda leluhurnya, masyarakat membangun tempat suci bersama, berupa tiga buah pura yang dikenal dengan Kahyangan Tiga. Di dalam pura-pura itulah mereka berkumpul menyama braya dan berbarengan memuja dewa-dewa yang bersemayam di dalam pura tersebut. Ketiga pura yang dimaksud adalah: Pura Puseh, Pura Desa/Bale Agung, dan Pura Dalem.

Kedatangan Mpu Kuturan, Rsi Markandya, dan Dang Hyang Nirartha ke Bali beberapa abad lalu membawa perubahan penting dalam tata keagamaan di Bali. Ketika itu Mpu Kuturan menganjurkan beberapa perubahan dalam tata keagamaan di Bali, seperti pembuatan Kahyangan Catur Lokapala, Sad Kahyangan Jagat, selain mengajarkan membuat kahyangan secara fisik dan spiritual, berupa ragam jenis upacara dan jenis-jenis pedagingan. Penyempurnaan kehidupan agama Hindu dilakukan pula oleh Dang Hyang Nirartha yang datang ke Bali pada abad ke-15, di era pemerintahan raja Dalem Waturenggong di Gelgel-Klungkung.

Karakteristik Pura
Beragam profesi tumbuh di masyarakat, berbagai tempat suci atau pura pun bermunculan. Para nelayan yang umumnya bermukim di pesisir, mencari penghidupan di laut. Laut dianggap bisa memberi kehidupan, lantas masyarakat nelayan mendirikan Pura Segara atau Pura Pabean.

Yang memiliki profesi sebagai petani pengolah tanah basah, mereka akan terikat kepada air yang dianggap sebagai sumber kehidupannya. Mereka bersatu pula untuk mendirikan pura-pura yang dekat dengan sumber air. Misalnya semacam Pura : Ulun Danu, Pura Siwi, Pura Bedugul, Pura Masceti, yang berfungsi sebagai pura kemakmuran. Profesi lain sebagai pedagang memerlukan pula tempat pemujaan dalam wujud pura, seperti Pura Melanting. Umumnya pura ini didirikan di dalam suatu pasar, dipuja para pedagang dalam lingkungan tersebut.

Sementara kalau berdasarkan karakteristiknya pura-pura di Bali dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok. Pertama, Pura Kahyangan Jagat, yakni pura umum tempat pemujaan Tuhan dengan segala prabhawa-Nya serta roh suci leluhur, termasuk di dalamnya Pura Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan. Yang disebut Pura Kahyangan Jagat ialah Pura-pura Kahyangan Agung terutama yang terdapat di delapan penjuru mata angin dan pusat pulau Bali.

Kedua, Pura Kahyangan Desa, Pura yang disungsung oleh Desa adat berupa Kahyangan Tiga, yakni: Pura Desa atau Bale Agung tempat memuja Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai Dewa Brahma selaku pencipta (utpeti), Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Wisnu sebagai pemelihara (sthiti), dan Pura Dalem, tempat memuja Siwa sebagai pelebur (pralina).

Ketiga, Pura Swagina, pura yang penyiwi-pemuja-nya terikat oleh swagina atau yang punya keterlibatan sama dalam sistem mata pencaharian hidupnya. Pura dimaksud adalah seperti Pura : Subak, Dugul, Melanting, Ulun Suwi.
Keempat, Pura Kawitan, Pura yang penyiwi-nya ditentukan oleh ikatan “asal muasal” atau leluhur berdasarkan garis keturunan geneologis, seperti: Sanggah / Pamerajan, Paibon, Panti, Dadia, Dalem Dadia, Penataran Dadia, Pedarman.

• I NyomanGde Suardana
Landasan Filosofis
Di Bali khususnya dalam mendirikan suatu pura terlebih pura Kahyangan Jagat senantiasa berlandaskan pada konsepsi filosofis yang relevan dengan ajaran Tatwa agama Hindu di Bali. Dari uraian-uraian yang telah dijabarkan sebelumnya, ada tiga landasan konsepsi filosofis.
Konsepsi Rwa Bhineda-kesatuan purusa dan pradana melandasi pendirian Kahyangan Gunung Agung (Besakih sebagai purusa) dan Kahyangan Batur selaku pradana. Sementara konsepsi Catur Loka Pala, pengejawantahan daripada “Cadu Sakti” - empat aspek kemahakuasaan Tuhan, melandasi pendirian Kahyangan Catur Loka Phala ( Pura: Lempuyang di timur, Andakasa di selatan,. Batu Karu di Barat dan Puncak Mangu di utara). Konsepsi berikutnya, Sad Winayaka, secara konsepsional terkait dengan Pura: Besakih, Lempuyang, Goa Lawah, Hulu Watu, Batu Karu dan Pusering Jagat.

Ketiga landasan filosofis itu menjadi dasar pendirian Kahyangan Jagat, sebagai “Padma Bhuwana”, sthana Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Sembilan Kahyangan Jagat itu meliputi Pura: Lempuyang di timur, Andakasa di selatan, Batu Karu di barat, Batur di utara, Besakih di timur laut, Goa Lawah di tenggara, Hulu Watu di barat daya, Puncak Mangu di barat laut, dan Pusering Jagat di tengah.

Di era global yang penuh tantangan di tengah perkembangan teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi dewasa ini, ada baiknya menerapkan konsepsi secara holistik terkait dengan aspek-aspek lainnya dalam merancang Pura. Perlu penyesuaian yang adaptatif dengan kondisi dan situasi lingkungan di mana pura tersebut akan dibangun atau didirikan.

Konsep Rancangan
Dalam melakukan pendekatan Konsep Rancangan juga perlu dilakukan beberapa dasar pertimbangan, antara lain: kegiatan civitas (manusianya), kebutuhan fasilitas, anggaran yang tersedia, kapasitas pamadek umat Hindu yang tangkil, alur atau pola sirkulasi umum, alur / pola sirkulasi khusus ke tempat suci. Kemudian dilakukan pendekatan terhadap bentuk rancangan, semisal peletakan kompas yang benar untuk ketepatan arah mata angin/orientasi, menerapkan tata nilai ruang arsitektur Bali, menempatkan patung-patung bermakna, menyediakan wadah aktivitas pejalan kaki dan penyediaan tempat parkir.

Begitu pula mesti memperhatikan bentuk pembangunan dan penataannya, semisal posisi penempatan jalan setapaknya. Di sisi lain untuk mengatasi terjadinya banjir (saat musim hujan) pada titik-titik tertentu perlu dibuat sumur-sumur resapan air, selain banyak ditanami pepohonan. Juga pada jalan dekat pura dilakukan penataan saluran air yang ada. Ada baiknya pula jika dibangun tempat untuk mebasuh (cuci) muka atau tangan di jaba sisi selain disediakan tempat mandi dan toilet di area terluar (jaba sisi pisan).

Lantas, bagaimana pendekatan sistem struktur dan utilitasnya? Ihwal tersebut tentu bisa dipengaruhi oleh faktor kondisi tanah, fleksibilitas ruang, perkembangan teknologi, fungsi bangunan serta kekuatan dan kestabilan. Sementara pendekatan sistem utilitasnya lebih melihat pada kondisi alam, persyaratan fisik dan psikologis pengguna ruang atau fasilitas dan kapasitasnya. Ada baiknya mengutamakan penggunaan bahan lokal/alami, baik untuk struktur maupun finishing. Selain itu agar dipakai bahan yang mampu bertahan lama, mudah dalam pemeliharaan, selaras dan harmonis dengan lingkungan, serta mendukung vibrasi kesucian pura.

Dalam menentukan Pengelompokan pengguna ruang dan besaran ruangnya perlu dipertimbangkan penataan unit jalan lingkungan menuju kawasan pura. Pun unit jalan menuju jaba sisi, jaba tengah dan jeroan pura. Sementara penentuan besaran ruang terkait dengan luas persil atau area, ukuran gerak aktivitas manusia, efektifitas kegiatan, efisiensi penggunaan ruang, efektivitas penataan, persyaratan fisik dan psikologis. Suasana alami-religius hendaknya menunjang masing-masing kegiatan dan sepatutnya tetap menerapkan sistem “gegulak”. Semua undag (anak tangga) pakai sikut tapak-berjumlah ganjil-dan ngandang ngurip.

Pura selain berarti sebagai tempat sujud atau tempat persembahyangan, juga sebagai tempat memohon ampun atas pikir, kata dan laku yang keliru dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, serta ucapan terima kasih kepada Hyang Pencipta atas anugerah perlindungan-Nya. Maka, pura sebagai tempat ‘mengusung sembah tulus’ patut dijaga kelestarian dan kesuciannya serta dihormati oleh umatnya. Peranan pura sangat penting sebagai “sentra rohani”, tempat memuja Tuhan dalam berbagai manifestasinya, selain sebagai tempat untuk melaksanakan “Dharma: Gita, Yatra, Wacana, Tula, Sedana, Shanti”.

• Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu

Permandian dan Pura Tirta Empul, Ruang Sunyi Pemberi Inspirasi

Permandian dan Pura Tirta Empul
Ruang Sunyi Pemberi Inspirasi


Pura Tirta Empul dan permandiannya terletak di wilayah desa Manukaya, kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Bagaimana sejarah dan nilai ruang arsitekturalnya? Dari kabar yang berkembang belakangan ini, kawasan Tampaksiring hendak ditata sebagai wilayah yang memiliki nilai histories.. Di kawasan ini, selain terdapat Pura Tirta Empul, juga Istana Presiden RI Pertama, dan Pura Gunung Kawi. Bagaimana asal usul, sejarah, arsitektur dan daya pikat yang dimiliki kawasan ini?

Diperkirakan nama Tampaksiring berasal dari (bahasa Bali) kata tampak yang berarti “telapak”, dan siring yang bermakna “miring”. Makna dari kedua kata itu konon terkait dengan sepotong legenda yang tersurat dan tersirat pada sebuah daun lontar, yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari bekas jejak telapak kaki seorang raja bernama Mayadenawa.
Menurut lontar “Mayadanawantaka”, raja ini merupakan putra dari Bhagawan Kasyapa dengan Dewi Danu. Namun sayang, raja yang pandai dan sakti ini memiliki sifat durjana, berhasrat menguasai dunia dan mabuk akan kekuasaan. Terlebih ia mengklaim dirinya sebagai Dewa yang mengharuskan rakyat untuk menyembahnya.

Alkisah, lantaran tabiat buruk yang dimilikinya itu, lantas Batara Indra marah, kemudian menyerbu dan menggempurnya melalui bala tentara yang dikirim. Sembari berlari masuk hutan, Mayadenawa berupaya mengecoh pengejarnya dengan memiringkan telapak kakinya saat melangkah. Sebuah tipuan yang ia coba tebar agar para pengejar tak mengenali jejaknya. Konon dengan kesaktian yang dimilikinya, ia bisa berubah-ubah wujud atau rupa.

Namun, sepandai-pandai ia menyelinap, tertangkap juga oleh para pengejarnya, kendati – sebelumnya - ia sempat menciptakan mata air beracun, yang menyebabkan banyak bala tentara menemui ajal usai mandi dan meminum air tersebut. Lantas sebagai tandingan, Batara Indra menciptakan mata air penawar racun itu. Air penawar itulah yang kemudian disebut dengan Tirta Empul (air suci). Sedangkan kawasan hutan yang dilewati Mayadenawa - dengan berjalan memiringkan telapak kakinya - dikenal dengan sebutan Tampaksiring.

Lalu, bagaimana dengan keberadaan arsitektur Pura Tirta Empul beserta permandiannya itu?
Ktut Soebandi, dalam buku “Sejarah Pembangunan Pura-Pura di Bali” menyebutkan, Permandian Tirta Empul dibangun pada zaman pemerintahan Raja Sri Candrabhaya Singha Warmadewa, dan hal ini dapat diketahui dari adanya sebuah piagam batu yang terdapat di desa Manukaya yang memuat tulisan dan angka yang menyebutkan bahwa permandian Tirta Empul dibangun pada Sasih Kapat tahun Icaka 884, sekitar Oktober tahun 962 Masehi.
Lantas bagaimana pula dengan Pura Tirta Empulnya, apakah dibangun bersamaan dengan permandiannya?

Ternyata (masih dalam buku tersebut) antara lain dinyatakan, bahwa Pura Tirta Empul dibangun pada zaman pemerintahan Raja Masula Masuli berkuasa dan memerintah di Bali. Hal ini dapat diketahui dari bunyi lontar Usana Bali. Isi dari lontar itu disebutkan artinya sebagai berikut: “Tatkala itu senang hatinya orang Bali semua, dipimpin oleh Baginda Raja Masula Masuli, dan rakyat seluruhnya merasa gembira, semua rakyat sama-sama mengeluarkan padas, serta bahan bangunan lainnya, seperti dari Blahbatuh, Pejeng, Tampaksiring”.
Dalam Prasasti Sading ada disebutkan, Raja Masula Masuli bertahta di Bali mulai tahun icaka 1100 atau tahun 1178 M, yang memerintah selama 77 tahun. Berarti ada perbedaan waktu 288 tahun antara pembangunan permandian Tirta Empul dengan pembangunan puranya.

Telah Mendahului
Jika dikaji dari perbedaan waktu dan fungsi dari ruang arsitektural, menunjukkan bahwa ruang telah mendahuli kesadaran visual manusianya. Dalam hal ini setiap objek memiliki suatu hubungan dengan ruang. Objek selaku sumber mata air berhubungan dengan ruang, yakni ruang untuk mandi, citra ruang sebagai tempat –religius-untuk membersihkan diri, baik secara alam sekala (nyata) maupun niskala (tak nyata).

Dalam suatu tatanan spasial, jika suatu obyek –tempat mandi-berdaya guna secara optimal, terciptalah suatu tatanan dari Ruang-Waktu. Permandian adalah ruang. Hubungan-hubungan yang dibangun oleh bentuk dan ruang akan menentukan ritme, nilai estetika dan religius dari bangunan itu. Di mana ruang mandi ini bukan semata membersihkan badan-ragawi, namun juga rohani, yang dalam bahasa spiritual-Bali disebut juga ngelukat.

Dari keberadaan tempat permandian ini secara eksistensial dapat dieksplorasi esensi penggabungan ‘tiga macam ruang’ yang disebut dengan tactile (rabaan), mobile (gerakan) dan visual (pandangan); dalam hal ini terjadi penyatuan semua indera manusia yang berhadapan dengan pengalaman-pengalaman serentak maupun berurutan dalam ruang dan waktu. Ornamen atau relief-relief mulut pancuran dan sekitarnya merupakan ruang tactile-nya, ruang untuk bergerak sebagai mobile aktivitas mandi dan pancaran estetik-religius dari ornamen berhubungan dengan ruang visual-nya.

Hal lain bila lebih dicermati lagi dari nilai historisnya, menurut Bernard M Feilden, dalam buku “Conservation of Historic Buildings”, mengemukakan, bahwa ada beberapa nilai pada prinsipnya terkandung dalam arsitektur yang bernilai sejarah: 1) nilai-nilai emosional seperti keajaiban, identitas, kontinyuitas, spiritual dan simbolis; 2) nilai-nilai kultural, yang meliputi pendokumentasian, sejarah, arkeologi, usia dan kelangkaan, estetika dan simbolis, arsitektural, tata kota, pertamanan dan ekologikal; 3) nilai-nilai penggunaan, seperti fungsional, ekonomi, sosial dan politik.

Bagaimana pemandangan di sekitar pura? Jika diamati dari sisi tebing yang menghubungkan Istana Tampaksiring dengan Tirta Empul dan permandiannya, di kejauhan utara terlihat kebiruan Gunung Batur dan keelokan panorama Gunung Agung di sebelah Timur. Di sekitarnya juga nampak permukiman penduduk serta pemandangan persawahan berterassering di kemiringan pebukitan. Di sela-sela bangunan terhampar lansekap yang bernas oleh tanaman hias, dengan rerumputan hijau berpaut pepohonan-pepohonan tua, menambah suasana keteduhan dan ketenangan di kawasan pura ini.

Secara arsitektural Permandian dan Pura Tirta Empul ini memiliki nilai sejarah, bervibrasi spiritual, berkarakter khas, serta akrab dan ramah terhadap lingkungan. Tampilan arsitekturnya bernafaskan tradisi, serta menyatu terhadap kondisi alam di sekitarnya. Ruang-ruangnya pun menyiratkan makna yang religius.


 I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu

Pura Agung Besakih Awalnya, Penamaman "Pancadatu" Hindari Petaka

Pada Purnama Kadasa, Rabu (12/4) lalu, di Pura Agung Besakih diselenggarakan piodalan atau upacara Betara Turun Kabeh yang berlangsung (nyejer) selama sebelas hari. Masyarakat umat Hindu berduyun-duyun pedek tangkil silih berganti ke Pura terbesar di Bali yang dibangun di barat daya lambung Gunung Agung itu. Apa saja yang bisa disimak dari Pura Agung Besakih? Makna apa yang kira-kira bisa didapat dari ungkapan arsitekturnya?
---------------

PURA Agung Besakih berlokasi di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Mungkin sudah ribuan cerita pernah diungkap dan ditulis tentang keagungan pura terbesar di Bali ini. Namun sampai kini belum ditemui data pasti mengenai kapan pura ini pertama kali didirikan. Informasi berupa data yang bernilai historis maupun prasasti-prasasti yang diperoleh hanya sebatas wujud pengembangan puranya. Hanya sekilas, konon ada dimuat dalam lontar "Markandya Pura", mengisahkan kedatangan Rsi Markandya bersama para pengikutnya dari Jawa Timur ke pulau Bali. Namun ada sumber lain yang menyebutkan bahwa Rsi Markandya datang ke Bali sekitar abad ke-8.

Disebutkan, mereka datang merabas hutan guna dijadikan lahan pertanian. Sebelum pekerjaan itu dilakukan, dilangsungkan upacara penanaman pancadatu (lima jenis logam mulia) seperti emas, perak, tembaga, timah, besi, dengan maksud agar tak tertimpa petaka atau marabahaya. Penataannya disesuaikan dengan tatanan kosmologis (pengider-ider) jagat. Nah, tempat penanaman pancadatu itulah akhirnya dinamakan Basuki, yang punya arti rahayu (diberi keselamatan). Lantas para ahli memperkirakan tempat itu sebagai Pura Agung Besakih.

Banyak pakar menilai, Pura Agung Besakih dalam masyarakat Bali punya hubungan yang sangat erat antara adat-istiadat dan kultur yang dilandasi oleh nilai-nilai ajaran agama Hindu sebagai satu kesatuan sistem socioculture masyarakat Bali yang bersifat sosial religius. Dengan kata lain sebagai wujud cerminan nilai-nilai falsafah Hindu yang amat religius, indah, menakjubkan dan bervibrasi spiritual.

Mpu Kuturan
Beberapa abad kemudian, Mpu Kuturan datang, melakukan penataan kembali Pura Agung Besakih sekitar tahun 929 Saka (1007 M) semasa pemerintahan Raja Udayana. Ada dikisahkan, penataan itu bertitik tolak dari Pura Paninjoan, yang dalam mata batin beliau menghayati dan memahami secara holistik tatanan itu sebagai satu kesatuan utuh (unity), untuk mencermati dan menyempurnakan penataan pancadatu yang dilakukan Rsi Markandya sebelumnya. Berangkat dari penataan itulah mulai ada kejelasan adanya area pokok atau inti, area penyangga (diwujudkan dalam konsep Catur Lawa, seperti Pura Penyarikan, Pande, Ratu Pasek, Seganing), dan area penunjang.

Pada area inti antara lain terdapat candi bentar, bale pegat, bale kulkul, bale pelegongan, bale pegambuhan, bale ongkara, kori agung, bale pawedan, bale agung, bale pesamuan agung, bale tengah, bale papelik, beberapa meru tumpang 11, tumpang 9, tumpang 7, tumpang 5, tumpang 3, sanggar agung, bale tengah, bale paruman alit, bebaturan, bale kembang sirang, bale gong, gedong bale panggungan, dan bale kampuh. Area inti disebut sebagai sapta petala (area tujuh lapis) atau kerap pula disebut area luhuring ambal-ambal.

Pembagian ini bercermin dari adanya teori tujuh pelapisan alam. Area ini juga dibagi berdasarkan konsep triloka -- alam bawah (bhur), tengah (bwah), atas (swah) yang dalam bahasa keilmuan semesta disebut lapisan hidrosfer, litosfer dan atmosfer. Konsep tersebut di ataslah kemudian melahirkan konsep sapta mandala (dibagi tujuh ruang) dalam area inti, dari hulu hingga jaba sisi.

Perhatian Raja
Periode berikutnya berlanjut pada zaman kerajaan Gelgel, khususnya pada era pemerintahan Dalem Waturenggong. Lontar Raja Purana "Pangandika ring Gunung Agung" menyebutkan bahwa keberadaan Pura Besakih kian memperoleh perhatian besar tatkala era keemasan kerajaan Gelgel di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong. Disebutkan pula, Pura Besakih, selain berfungsi sebagai sthana Dewa Sambu di timur laut pangider bhuwana, pun dalam ritualnya berfungsi sebagai titik sentral. Lantas Besakih dinyatakan sebagai parahyangan "Madyanikang Padma Bhuwana", berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan (Padma Bhuwana) dan Penyungsungan Jagat.

Dikisahkan, dalam masa kejayaan Dalem Waturenggong, Raja dikenal sangat arif bijaksana dalam memimpin pemerintahan. Pada saat inilah diperkirakan sejumlah padharman tumbuh di Bali. Pada zaman ini pula diceritakan datang seorang tokoh agama, Mpu Dwijendra pada 1489 M dari Jawa ke Bali yang diangkat oleh Raja sebagai Bhagawanta Istana. Konon salah satu muridnya yang terkenal pada waktu itu adalah Rakryan Panulisan Dawuh Bale Agung yang berperan sebagai Penyarikan Dalem, lantaran beliau memiliki keahlian di bidang kesusastraan dan filsafat. Di era kedatangan Mpu Dwijendra (Dang Hyang Nirartha) dari Majapahit inilah dibangun pula Padmasana Tiga di Penataran Agung Besakih.

Kawasan Luas
Sesungguhnya, kawasan Pura Besakih memang sangat luas. Terdapat tak kurang dari 18 Pura Pakideh (pura yang tergolong pura umum), 13 pura pedharman dan lebih dari 15 pura paibon. Sebagaimana sudah disebut, ada area inti, penyangga dan penunjang, maka memasuki kawasan Pura Agung Besakih, dari bagian hilir/bawah (soring ambal-ambal) hingga ke hulu, terdapat beberapa gugus pura.

Paling depan dari kompleks pura itu adalah Pura Pasimpangan. Sesudahnya, ada Pura Tirta Sudamala. Berikutnya Pura Dalem Puri, Pura Tirta Empul dan Pura Manik Mas -- terletak di seberang timur jalan dan sungai. Kelompok pura selanjutnya yang tempatnya paling berdekatan adalah Pura Bangun Sakti, Pura Tirta Tunggang, Pura Goa Raja, Pura Ulun Kulkul (Catur Lokapala-Barat). Tak jauh dari situ, berdiri Pura Merajan Selonding, Pura Merajan Kanginan dan Pura Banua Kawan. Selain itu dapat dijumpai adanya wantilan, Pura Mrajapati Hyangaluh dan Bancingah Agung.

Sebelum menapaki sejumlah tangga (undag-undag), area terdepan dari kompleks Pura Penataran Agung, pemedek akan melewati sisi kanan dari Pura Basukian. Usai melewatinya, pemedek akan dapat melangkah di undag bagian tengah yang hendak menuju Pura Penataran Agung Besakih (sebagai pusat tengah) maupun melalui undag samping yang hendak menuju Pura Pasimpenan Dukuh Sedaning, Pura Ratu Pasek, kompleks pura pedharman, Pura Ratu Penyarikan, Pura Kiduling Kreteg, hingga ke Pura Gelap (Catur Lokapala-Timur), Pura Pangubengan dan Pura Tirta Pingit.

Di sayap kanan (sebelah barat laut) dari Pura Penataran Agung terhadap Perantenan Suci. Tak jauh dari tempat ini terdapat Pura Ratu Pande (Catur Lawa), Pura Batumadeg (Catur Lokapala-Utara), Pura Tirta Sangku, Pura Paninjoan dan Pura Dukuh Sedaning (Catur Lawa).

I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 30 April 2006

Kamis, 09 Juli 2009

Seberapa Komplekskah Penataan Arsitektur Bandara?

KIAN padatnya layanan angkutan udara belakangan ini memerlukan perhatian bersama. Pesawat beserta awak dan penumpang layak memperoleh jaminan keamanan, kenyamanan dan keselamatan. Bukan saja saat pesawat berada di udara, namun juga tatkala mereka ada di darat, menjelang, sedang atau setelah mengudara. Terkait dengan aktivitas angkutan udara dan layanan itu, tentu tak bisa dipisahkan peran dan fungsi sebuah bandar udara (bandara). Apa saja yang bisa disimak dari arsitektur bandara? Demikian komplekskah rancangan sebuah bandara?
--------------------------

Berdasarkan data statistik yang ada, semisal "Bali dalam Angka 2006" (Badan Pusat Statistik Propinsi Bali) yang bersumber dari Administrator Pelabuhan Udara Ngurah Rai-Bali, banyaknya pesawat terbang yang datang dan berangkat dari bandara ini selama 2005 nyaris 30.000-an. Pesawat berangkat sejumlah 29.721, meningkat 5,68% dari tahun 2004 dan kedatangan 29.633 kali penerbangan, meningkat 5,47% dari tahun 2004.

Sementara pada tahun yang sama jumlah penumpang berangkat mencapai 3.191.695 orang (meningkat 7,14%). Yang datang 3.162.426 (meningkat 7,58% dari tahun 2004), dan transit 151.729 penumpang (meningkat 41,88% dari tahun sebelumnya). Nah, bagaimana mengantisipasi perkembangan tersebut ke depan, terutama menyangkut arsitektur bandaranya?

Bandar udara atau bandara memiliki pengertian yang berasal dari kata "bandar" (tempat berlabuh) dan "udara". Bandara dalam bahasa Inggris adalah airport, menurut G&G Meriem Company (1959) memiliki pengertian "suatu tempat di darat atau di air di mana pesawat udara dapat mendarat untuk menurunkan atau mengangkut penumpang dan barang, mengadakan perbaikan atau mengisi bahan bakar. Maka, arsitektur bandara dapat diartikan sebagai suatu wadah yang berfungsi menampung perpindahan orang atau barang dari suatu mode angkutan ke kendaraan udara atau sebaliknya. Di dalamnya menyangkut bangunan terminal (terminal building), tempat parkir pesawat terbang (apron), parkir kendaraan darat, jalan, jalur hijau.

Berdasarkan klasifikasi atau status bandara, menurut pelayanannya -- sesuai dengan rute penerbangan dan peranan pemerintah -- dapat dibedakan atas: bandara internasional, bandara domestik, bandara internasional dan domestik. Status bandara itu berpengaruh pula terhadap panjang landasannya yang sesuai dengan jelajah pesawat terbangnya. Berdasarkan sumber (Ditjen Perhubungan Udara), panjang landasan (minimal) yang dimiliki bandara sesuai status/ klasifikasinya, yakni bandara internasional 2.350 m, bandara pusat utama 1.850 m, bandara propinsi 1.250 m, dan bandara perintis (750 m).

Unsur Pokok
Lalu, ada beberapa unsur pokok yang terkait di dalam angkutan udara? Menurut Kewik Sugiana (dalam "Airport Terminal Building", 1975) unsur-unsur itu menyangkut: pesawat udara, terminal, en route (air way, navigation, meteorology approach control dan radio monitoring). Masing-masing unsur ini memiliki ketergantungan yang sangat erat satu sama lain, sehingga jika satu berkembang maka yang lain akan berkembang juga sejalan dengan urgensinya.

Kegiatan yang menunjang unsur-unsur pokok itu antara lain, kegiatan (a) pelayanan penumpang dan barang secara operasional maupun administratif, (b) pelayanan bagi keamanan penerbangan pada waktu terbang, mendarat atau naik, (c) pelayanan pesawat terbang dalam hal teknis dan operasional, serta (d) yang sesuai dengan hukum-hukum internasional maupun domestik, menyangkut peranan pemerintah dalam transportasi udara.

Pemerintah sesungguhnya punya peran penting dalam penanganan sistem angkutan udara. Pengaturan penerbangan secara aktif menentukan policy angkutan udara, lantaran banyak dikaitkan dengan masalah-masalah keimigrasian, bea cukai, karantina hingga politik, selain perundang-undangan menjaga keselamatan penumpang dan penduduk dari izin-izin penerbangan.

Bandara berfungsi sebagai suatu tempat dengan segala perlengkapan beserta gedungnya, dipakai untuk pemberangkatan, pendaratan dan pelayanan bagi pesawat terbang dengan segala muatannya, berupa penumpang dan barang. Artinya, bandara merupakan tempat perpindahan dari sub sistem angkutan udara ke udara, udara ke darat atau udara ke air.

Wujud dasar (konfigurasi) suatu bandara umumnya dikelompokkan menjadi dua bagian, sbb.:
1. Terminal Building yang di dalamnya terdapat (a) bangunan terminal sebagai fasilitas wadah kegiatan penanganan penumpang dan barang, kegiatan airlines, pengelolaan dan kegiatan lain yang mendukungnya, (b) hanggar dari pesawat sebagai wadah kegiatan pemeliharaan pesawat, (c) fasilitas pemeliharaan bandara, termasuk pemadam kebakaran, (d) apron, untuk fasilitas bongkar muat barang dan penumpang serta juga wadah kegiatan pelayanan teknis pesawat.
2. Landasan pacu (runway) yang meliputi prinsip pengaturan tata letak runway yang dapat dibagi jadi 3 bagian, yakni: single ranway, paralel runway dan divergent runway. Pengaturan ini dapat dikembangkan lebih lanjut yang dipengaruhi oleh kebutuhan panjangnya, jumlah dan arah runway.

Yang penting, sebagai konsep dalam merancang bandara adalah bagaimana memahami pola kegiatan utama dari bandara itu sendiri, yang menyangkut kegiatan (1) processing penumpang dan barang, (2) pelayanan terhadap pesawat udara saat berhenti berupa penambahan bahan bakar, air, sampai makanan yang dilakukan oleh perusahaan penerbangan; (3) keselamatan penerbangan yang memberi petunjuk mengenai kecepatan angin sampai kondisi cuaca, (4) pengelolaan bandara, administratif, kegiatan operasional, (5) penunjang berupa pengaturan kendaraan darat, dan (6) penunjang bandara meliputi pemeliharaan dan perbaikan pesawat dan bahaya kebakaran.

Rancangan sebuah bandara tentu memerlukan keterlibatan banyak disiplin ilmu, mulai dari arsitek planner, arsitek bangunan gedung, desainer interior, sipil, mekanikal-elektrikal, fisika bangunan, meteorologi dan geofisika, ahli lingkungan, dan lainnya. Wujud yang dihasilkan diharapkan mampu memberikan kenyamanan dan keselamatan yang optimal bagi penumpang, pilot, barang, maupun orang-orang yang terlibat dengan jasa angkutan udara di dalamnya.

Pola Pewadahan
Sebelum melahirkan macam ruang yang dibutuhkan, tentu harus dianalisis pola pewadahannya sampai kegiatannya. Macam kegiatan itu antara lain meliputi (1) airlines (agen penerbangan, penjualan tiket, sampai administrasi dan operasional), (2) pelayanan umum (kedatangan dan keberangkatan penumpang, transit, istirahat makan/minum), (3) persewaan (penjualan suvenir, jasa, surat menyurat, perhubungan), (4) pengelola bandara (pimpinan, kepala bagian, staf, dan pelaksana), (5) processing penumpang (pengawasan atau kontrol), (6) sirkulasi dan utilitas (untuk penumpang maupun petugas), (7) cargo, (8) pelayanan parkir, dan (9) penunjang kegiatan (teknis dan jaga).

Beberapa hal lain yang juga sangat menunjang kenyamanan dan kenikmatan orang-orang yang beraktivitas di dalamnya adalah antara lain menyangkut penghawaan, penerangan, akustik, komunikasi, bahaya kebakaran, security (satpam). Dibutuhkan sistem penghawaan yang baik dan memenuhi syarat dalam setiap ruangan yang ada. Pada ruang-ruang yang langsung berhubungan dengan ruang luar seperti lobby keberangkatan dan kedatangan ada baiknya memanfaatkan penghawaan dan penerangan alam.

Lalu, bagaimana sepatutnya tampilan atau fasad arsitektural secara keseluruhan? Karena Bandara merupakan sebagai ‘pintu gerbang’ utama keluar-masuknya orang-orang melalui alat transportasi udara, terlebih (misalnya) itu sebagai Bandara Internasional, semestinyalah mampu mengangkat kearifan filosofi arsitektur lokalnya. Konsepsi yang holistik antara fungsi, pola aktivitas dan spirit ataupun roh local genius-nya akan mampu melahirkan harmoni yang estetik.

Sebuah bandara hendaknya tidak menjadi tempat yang membingungkan bagi para penumpang. Orientasi sirkulasi atau arah antara bagian darat (semisal chek-in) dengan ruang tunggu mesti jelas untuk setiap orang. Begitu pula sebaliknya, saat penumpang menuju pintu keluar. Memang, untuk mewujudkan sebuah arsitektur bandara yang baik memerlukan keterpaduan pemahaman konsep pewadahan yang memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi kelangsungan aktivitas orang-orang yang bergerak di dalamnya.

I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 4 Februari 2007.

Pasar Tradisional yang kian Terpinggir

SEKARANG, "pasar swalayan modern" banyak dibangun dalam bentuk mal, minimarket, supermarket atau hypermarket. Kehadirannya seperti mulai kian berlebihan dan memberi dampak pada wajah arsitektur kotanya. Terkendalikah pertumbuhannya? Sudahkah bercitra Bali? Lantas, bagaimana peran, makna dan fungsi keberadaan pasar tradisional ke depan?
-----------------

Memang banyak faktor yang mempengaruhi makna sebuah tempat (place) dan ruang (space) sebuah pasar secara arsitektural. Eksistensi suatu ruang publik kiranya bisa dikaji dari segi konteks, citra dan estetikanya. Dengan kata lain, keberadaan sebuah pasar tradisional, serta kaitan antara tempat lainnya masing-masing, tak boleh tercerabut dari pemahaman manusia yang hidup dan bergerak di dalamnya. Lantaran dimensi ruang publik bersifat sosio-spasial, maka makna keberadaan sebuah pasar tradisional di dalam kota tak semata memberi nilai bagi diri sendiri, melainkan juga untuk orang-orang yang hidup dan beraktivitas di "ruang" kota setempat.

Di sisi lain, mal, minimarket, supermarket atau semacamnya, boleh dikata sebagai wujud implementasi fisik perdagangan dari sistem budaya asing (kapitalis?), sehingga nilai keuntungan ekonomi jauh lebih banyak direguk pihak "luar". Sekarang, "pasar swalayan modern", tumbuh secara sporadis di kota-kota besar Indonesia, maupun di kota-kota kabupaten di Bali. Bahkan ditengarai -- oleh banyak pengamat -- akan menyisihkan unit-unit usaha mikro dan menengah yang umumnya dilakukan kalangan rakyat kecil atau pemodal pas-pasan.

Sementara pasar tradisional memiliki nilai peradaban asal muasal tempat tukar menukar barang atau jual beli bahan makanan, pakaian, alat-alat rumah tangga. Sekaligus sebagai ajang berkumpul (arti harafiahnya) yang di dalamnya terjadi akomodasi interaksi sosial dan ekonomi. Pasar itu sendiri dalam bahasa Bali atau Jawa, disebut dengan peken, konon punya arti "kumpul" (mapeken = berkumpul?).

Pada ruang pasar atau peken tak ada manifestasi kekuasaan atau semata unggulkan keuntungan besar. Namun, arsitektur pasar lebih dipahami sebagai sebuah "wilayah", ranah berkumpul, berperan selaku "media temu muka" saling berinteraksi, tukar menukar barang, jual-beli atau tawar menawar. Justru pemaknaan dan nilai-nilai inilah dianggap sebagai sentralnya. Ihwal tersebut dapat diamati pada awal adanya pasar tradisional di desa yang umumnya berlokasi di area terbuka, di bawah pohon beringin besar atau pepohonan rindang yang di dalamnya terjadi komunikasi antar-personal, interaksi humanistik sosial ekonomi.

Lantas, guna lebih menghidupkan dan mengembangkan pasar tradisional, langkah-langkah apa yang mesti dilakukan? Bagaimana wujud arsitektural sebuah pasar yang memenuhi kebutuhan dan tuntutan ruang publik secara berkualitas? Sejauh mana konsep yang baik dari sebuah pasar tradisional bisa diterapkan?

Agaknya diperlukan sebuah konsep yang jelas dan utuh dari sebuah pasar tradisional. Ditransformasikan berdasarkan perkembangan teknologi masa kini. Misalnya, bagaimana mewujudkan tampilan arsitekturalnya yang memenuhi fungsi, kenyamanan dan kenikmatan. Juga sistem penghawaan, drainase atau sanitasi yang hygienis, keamanan serta penyediaan tempat parkir yang memadai. Selain hal-hal teknis juga ada upaya melestarikan "budaya kumpul", interaksi sosial maupun ekonomi. Bukankah itu sesungguhnya makna dari keberadaan sebuah peken?

Lebih Humanis
Ada beberapa pendekatan yang mungkin perlu dilakukan untuk memberi nilai-nilai yang lebih humanis dan bermakna. Misalnya dari sisi pendekatan fungsi, teknis maupun estetikanya. Jika pasar memiliki fungsi campuran dari beberapa jenis pedagang yang berjualan hendaknya dilakukan pengelompokan jenis komoditi, agar bisa ditata menurut nilai-nilai tata ruang yang berkearifan lokal. Dengan lain kata, ada tatanan penempatan. Bisa diawali dari hal makro hingga ke mikro. Dari landasan falsafah dan konsep Tri Hita Karana, tatanan tri mandala hingga hirarkhi hulu-teben.

Dari sisi pendekatan teknis secara umum, faktor kekokohan sebuah arsitektur pasar dapat memberi jaminan keamanan secara teknis dan diwujudkan dengan pengawasan yang ketat. Aspek-aspek teknis konstruksinya diupayakan bisa diterjemahkan ke prinsip-prinsip bentuk konstruksi arsitektur Nusantara (Bali). Dengan demikian akan dapat menunjang karakter kekokohan sebuah pasar tradisional, bercitra kearifan lokal.

Bagaimana dengan pendekatan estetikanya? Ekspresi arsitektural (termasuk pasar) memiliki unsur-unsur "isi" (content) yang membentuk karakter arsitektur dan unsur "bentuk" (form) yang menampilkan estetika.

Dalam unsur "isi" meliputi beberapa hal penting: (a) aktivitas, civitas (orang-orang), falsafah hidup dan perilaku manusia yang ada di dalamnya; (b) simbol fungsi dan makna, yang memberi gambaran atau kesan kepada pengamat tentang fungsi dan makna suatu bangunan; (c) ekspresi teknis, pemberi "karakter" teknis konstruktif, baik secara struktural maupun ornamental.
Di sisi lain unsur "bentuk" yang merajut estetika bangunan secara universal diwujudkan melalui suatu komposisi elemen-elemen pembentuknya. Komposisi itu mengandung prinsip penyusunan unsur-unsur yang terdiri dari titik, garis, bidang, warna, tekstur, efek sinar/pencahayaan, skala, ruang, massa, ornamen.

Konsep Rancangan
Dari paparan di atas, rancangan sebuah pasar tradisional patut menganut kaidah-kaidah rancangan, dijiwai konsep dasarnya sebagai landasan berpijak di dalam merancang sebuah pasar.
Beberapa hal agaknya bisa digunakan sebagai acuan rancangan sebuah pasar tradisional, antara lain: (1) sediakan ruang-ruang kegiatan jual beli berdasarkan kelompok pedagang masing-masing, semisal ada area penjualan yang sama jenis barang dagangannya; (2) wujudkan ruang sirkulasi yang efektif di dalam maupun di lingkungan pasar; (3) terlindung dari pengaruh cuaca, hujan, panas mentari, bau; (4) sediakan ruang emergency bagi publik bila mengalami situasi darurat, seperti terjadi kebakaran, gempa bumi; (5) manfaatkan pemasukan cahaya alami; (6) posisikan sirkulasi udara secara optimal; (7) bentuk massa sederhana, struktur rangka ruang, bersifat fleksibel; (8) sediakan ruang parkir yang cukup dan berpeluang untuk bisa dikembangkan; (9) selesaikan secara teknis dan arsitektural sanitasi lingkungannya; (10) wujudkan rancangan yang dapat memberi rasa aman dan nyaman.

Dengan demikian, kultur lokal sebuah pasar tradisional tetap bisa diangkat dan ditumbuhkembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Tradisi kultural sebuah pasar berakar dari pola kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya. Bahkan untuk di Bali terkait dengan religiositas-spiritual manusianya selaku pengguna pasar tradisional. Misalnya di area hulu di dirikan tempat suci -- Pura Melanting, tempat para pedagang bersembahyang (muspa) atau berdoa.

Kiranya semua itu ada tertuang di dalam Perda (Peraturan Daerah). Tinggal bagaimana pengawasan atau kontrol dilakukan di lapangan, agar tak terjadi penyimpangan, mulai dari proses perizinan hingga pembangunan fisiknya. Terutama terhadap seberapa jauh diperkenankan tumbuh dan berkembangnya mal, minimarket, supermarket atau hypermarket di daerah, disesuaikan dengan daya dukung lahan Bali. Tentu di dalamnya ada pula diatur tentang peruntukan penggunaan lahan atau ketentuan lain yang mesti dipatuhi.

Mengungkap konsep yang diuraikan di atas, agaknya hal itu bisa diterapkan ke dalam rancangan sebuah pasar tradisional, dengan segala pernik-pernik transformasinya. Kendati ada pihak-pihak yang menghawatirkan pasar tradisional akan jadi redup ke sisi marginal, atau tersingkirkan oleh merebaknya mal, supermarket, hypermarket.

Kekhawatiran itu tentu akan sirna, bila (1) peran, makna dan fungsi pasar tradisional dikembalikan pada hakikat dan karakter pasar tradisional yang sebenarnya, dengan transformasi yang disesuaikan dengan kondisi saat ini, (2) tegas dan konsisten melaksanakan aturan atau ketentuan dalam Perda, utamanya menyangkut tentang batasan jumlah "pasar swalayan modern" yang diperkenankan berdiri di suatu kawasan, dan (3) konsep-konsep arsitektural pasar tradisional yang telah dijabarkan bisa diimplementasikan secara bijak.

I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 27 Mei 2007

Jangan Seragamkan Arsitektur Lokal Bali

Mungkin suatu saat ke depan dibutuhkan sebuah “ensiklopedi” yang merupakan himpunan kesatuan pemahaman atau tafsir mengenai arsitektur Bali. Di dalamnya mungkin bisa dimuat landasan fasafah,pemaknaan, dan perihal yang esensial dalam keanekaragaman-keragaman dan keunikan arsitektur Bali. Jelas hal ini samasekali terlepas jauh dari substansi penyeragaman arsitektur dalam cakupan fisik. Namun, justru lebih terkait dalam konteks wilayah penyamaan pemahaman isi dan makna, atas realitas ketidaksamaan wujud penampakan arsitektur Bali di masing-masing tempat.

Kesatuan tafsir itu tentu perlu dipedomani oleh hasil penggalian atau penelitian terhadap saripati arsitektur Bali klasik, tradisional atau vernakularnya. Selain berharap agar tidak ada persepsi maupun penafsiran yang samar terhadap esensi arsitektur Bali.

Esensi yang diharapkan bisa “ajeg” dengan masing-masing kekhasan lokalnya karena arsitektur berdiri dan beradaptasi dengan kondisi alam lingkungan dan nilai-nilai cultural setempat. Untuk itu, pusaka kharismatik arsitektur Bali yang religius dan estetik, kiranya perlu diberi ruang sebagai dinamika denyut teks yang hidup. Lantas, bagaimana menyikapinya agar perkembangan maupun transformasinya senantiasa berasaskan pada akar local geniusnya?

Butir Tafsir
Manusia tentu tak pernah lepas dari prosesi beraktivitas di era peradabannya. Ketidakpahaman akan nilai-nilai moral dan makna dalam kandungan arsitektur agak berpeluang timbulkan pergeseran tafsir. Arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan hendaknya bisa dipandang sebagai sesuatu yang lebih dinamis, bukan kaku atau statis.

Agaknya perlu bercermin, dari kiprah para undagi tempo dulu, dalam berkarya tak lepas dari penjiwaan akumulasi norma-norma dan nilai-nilai kesepakatan moral yang berlaku di masyarakat. Maka di dalamnya bersimpul pesan moral, etika, tatakrama, religiositas dan “penyucian” perilaku manusia pengguna arsitekturnya. Pendek kata, unsure “rasa” pun amat berperan dominant menjiwai arsitektur Bali tradisionalnya.

Misalnya, bagaimana membangun pemahaman atau penafsiran yang lebih mengena, benar dan baik tentang tata cara membangun paumahan menurut smerti agama Hindu bagi para pemeluknya di Bali. Seperti yang bisa ditemukan dalam lontar “Keputusan Sang Hyang Anala” yang memuat secara rinci mengenai cara memilih tanah, jenis tanah, tata ruang halaman, prosedur membangun hingga upacara yang berhubungan dengan nyakap palemahan dan melaspas bangunan.

Sejauh ini, kiranya sudah ada bergulir butir-butir tafsir berupa wacana tentang arsitektur Bali menurut tatwa agama Hindu. Dalam pengertiannya ialah jika segala hasil perwujudan manusia dalam bentuk bangunan, mengandung keutuhan/kesatuan dengan agama (ritual) dan kehidupan budaya masyarakat. Di mana yang tercakup dalam bangunan itu meliputi kemampuan merancang dan membangun, serta di dalam mewujudkan seni bangunannya mengikuti berbagai prinsip, seperti bentuk, konstruksi, bahan, fungsi dan keindahan. Hanya saja mungkin agak jarang atau tidak pernah disosialisasikan maupun dilokakaryakan.

Para tetua atau undagi dulu menyebutkan, pada dasarnya yang dimaksud bangunan Bali yakni setiap bangunan yang berdasarkan tatwa (filsafat) agama Hindu. Dengan pengelompokan bangunan Bali, meliputi bangunan suci /keagamaan dan bangunan adapt. Bangunan Bali itu memiliki beberapa ketentuan, seperti tempat atau denahnya berlandaskan pada lontar Asta Bumi, pun bangunan atau konstruksinya berdasarkan lontar Asta Dewa dan Asta Kosala/Kosali, selain bahan-bahan atau ramuannya (seperti kayu, ijuk, alang-alang, batu alam, bata, dll.) bedasarkan pula pada lontar-lontar tersebut. Lontar yang khusus mengulas tentang klasifikasi kayu yang hendak digunakan untuk umah maupun bangunan-bangunan suci seperti lontar Janantaka.

Kandungan cirri-ciri bangunan Bali disebutkan meliputi pengider-ideran (catur loka atau asta dala), tri mandala / tri loka, adanya upacara sangaskara (penyucian) serta mengandung simbol-simbol sesuai dengan ajaran agama Hindu (seperti padma, naga, Sanghyang Acintya, dll). Sementara bentuk dan nama bangunan Bali senantiasa berdasarkan ketentuan-ketentuan lontar Asta Dewa, Asta Kosala/Kosali, dan lontar Wiswakarma yang mengulas tentang keprofesian undagi

Tata laksana dan penyucian bangunan Bali meliputi ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh dan ngurip-urip. Selaras dengan ketentuan yang ada dalam lontar Asta Dewa, Asta Kosala-Kosali, dan lontar Wiswakarma, yang mengulas tentang keprofesian undagi.
Tata laksana dan penyucian bangunan Bali meliputi ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh dan ngurip-urip. Selaras dengan ketentuan yang ada dalam lontar Asta Dewa, Asta Kosala/Kosali dan lontar-lontar lainnya, ketertiban fungsi dan penggunaannya dinyatakan, bahwa semua wujud bangunan Bali hendaknya mengikuti ketentuan-ketentuan yang disebutkan tadi, selain fungsi dan penggunaannya ditetapkan pada proporsi yang baik dan benar.

Banyak Lontar
Arsitektur Bali sejatinya telah telah dibekali banyak lontar yang berkaitan dengan arsitektur. Ada lontar Asta Patah yang terkait dengan ukuran dan jarak tiang bangunan. Swakarma perihal tata cara menebang kayu, Padmabhumi yang menyangkut sejarah lokasi pura-pura di Bali berlandaskan pengider-ideran pada bhuana agung. Janantaka tentang klasifikasi kayu yang hendak digunakan untuk bangunan-bangunan suci maupun umah.

Kemudian ada lontar tentang Sikuting Umah, berhubungan dengan pengukuran bangunan perumahan. Lainnya, ada Bhuana Kretih, terkait upacara-upacara dalam proses mendirikan bangunan sejak awal hingga selesai. Ada pula Dewa Tatwa yang mengulas jenis-jenis sesajen atau pedagingan untuk masing-masing palinggih dan jenis-jenis upacara pamelaspas. Intinya, semua itu boleh dikata sebagai “tutur-tutur” yang mengingatkan kembali, agar orang-orang senantiasa mensyukuri, menghormati dan memberi keseimbangan pada alam, tidak mengeksploitasi. Selain tetap eling dan bakti pada Hyang Pencipta serta kasih saying pada sesame makhluk ciptaan-Nya.

Nah, adanya pemahaman dalam pemaknaan arsitektur yang benar dan baik tentu nantinya akan dapat memberikan pengaruh terhadap kesantunan berkarya arsitektur di Bali. Kesantunan sebagai bingkai kejujuran, transparansi pengutaraan dan penciptaan ruang-ruang yang beretika dalam format nalar dan cita rasa yang kreatif hendaknya semakin mengakar dan membumi. Boleh jadi, pemahaman itu akan bermuara pada tafsir yang lebih bijak dan arif terhadap keberagaman arsitektur Bali itu sendiri. Maka sepatutnya, jangan seragamkan kekhasan arsitektur lokal yang satu dengan lainnya di tempat berbeda.

Keberagaman menunjukkan kekayaan local geniusnya. Arsitektur hunian vernacular Bali maupun tempat peribadatan (parhyangan) yang ditata dalam sebuah desa, masing-masing wilayah memiliki pola-pola khas yang unik. Misalnya ada pola desa-berarsitektur khas-Sembiran, Sukawana, Sidatapa, Julah, Tenaganan, Pengotan, Kekeran, Jatiluwih, Tengkudak, Wongaya Gede, Bugbug, Tihingan, Nyalian, Legian, Bayung Gede, dan masih banyak lagi. Begitu pula tatanan ruang dan masa bangunannya, punya keunikan masing-masing. Bukankah keberagaman itu indah?

Bali Post, Minggu, 27 Agustus 2006.