Sabtu, 11 Juli 2009

Pura Dalem Jagaraga - Buleleng, ''Saksi'' Perang, Prosesi Religius dan Keunikan Arsitekturnya

Belum ditemukan data pasti, entah tahun berapa didirikan Pura Dalem Jagaraga. Pura Dalem -- yang dulu disebut Pura Segara Madu -- ini, terletak di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Berjarak sekitar 11 km dari kota Singaraja. Pura ini merupakan Markas Komando laskar Bali dalam Perang Jagaraga, silam.

DI Pura Dalem inilah Jero Jempiring -- istri patih I Gusti Ketut Jelantik -- bertahan sebagai sentra perlawanan, menghadang serangan musuh, tatkala benteng Jagaraga yang berjarak sekitar 200 meter dari pura ini diduduki Belanda. Jero Jempiring dikenal luas lantaran berhasil mengatur jalannya pertempuran di sekitar Pura Dalem Jagaraga pada 1848, selaku komando dan penyala semangat laskar Bali saat menghadapi Belanda.

Konon wilayah Buleleng atau Bali utara kerap dikatakan sebagai wilayah yang senantiasa bergolak sejak abad ke-17 hingga ke-20. Kehidupan masyarakatnya yang dinamis menyentuh pergaulan multikultur. Saat itu kerajaan Buleleng memiliki rakyat yang dalam komunitas kehidupannya sangat heterogen dibanding wilayah-wilayah di kabupaten lain, misalnya bisa disebutkan adanya etnis-etnis Bugis, Cina, Arab, Jawa, Madura, dan Makassar di kawasan ini.

Akan halnya desa Jagaraga, dulu sempat kesohor sebagai ajang proses pembinaan dan penciptaan kreasi tari dan tabuh, di antaranya seperti terciptanya tarian "Teruna Jaya" dan tabuh "Palawakya" oleh Gde Manik bersama Pan Wandres. Jauh sebelumnya lagi merupakan sebagai tempat berdirinya benteng Jagaraga yang dibangun oleh pahlawan Nasional, Patih I Gusti Ketut Jelantik menjelang perang Jagaraga yang kedua. Mungkin lantaran kondisi geografis yang strategis, Desa Jagaraga telah berfungsi sebagai titik persinggahan pada akhir abad ke-18 bagi laskar-laskar kerabat kerajaan dari Kabupaten lain yang bergerak dari ibukota mereka ke Buleleng.

Desa yang diapit sungai (tukad) Gelung Sangsit di sebelah barat dan Tukad Daya di sebelah timurnya ini, berada pada ketinggian sekitar 100 meter dari permukaan laut dan berjarak hampir 5 km dari pantai pesisir laut utara. Di sebelah selatan desa ini -- yang kedudukan tanahnya kian meninggi -- terletak Desa Sawan, Menyali, Bebetin, Sekumpul dan Lemukih. Selain adanya benteng pertahanan yang dibuat ketika itu, sejatinya Desa Jagaraga sudah merupakan benteng alami, dikitari banyak pebukitan kecil dan sungai.

Di zaman silam, untuk mencapai Jagaraga dari Singaraja mesti melintasi empat sungai yang relatif besar dan curam. Strategisnya desa ini juga lantaran gampangnya lintasan ke daerah Batur ketika itu, baik melalui Desa Galungan dan Lemukih maupun lewat jalan Pakisan. Desa ini pun merupakan simpul pertemuan antara desa Bungkulan dan Menyali. Kini, dengan adanya perkembangan prasarana dan sarana transportasi, Jagaraga dapat dicapai dengan mudah dari segala arah.

Religius-Spiritual
Tak kurang sejak 40 tahun sebelumnya, hingga pecah Perang Buleleng 1846, proses penyatuan komunitas Jagaraga berjalan damai dan lestari. Bisa jadi mayoritas tetua moyang kalangan Bangsawan yang punya peran penting dalam Perang Jagaraga telah berdomisili di desa ini sejak kekuasaan wangsa Karangasem berjaya di Singaraja, di awal abad ke-19, yang kemudian bersama-sama rakyat desa setempat berjuang menentang penjajah.

Alkisah, di saat Singaraja jatuh pada pertengahan tahun 1846, tersebutlah patih I Gusti Ketut Jelantik memindahkan markas perlawanannya ke Desa Jagaraga. Idenya muncul untuk membangun benteng ala Barat nan canggih sebagai markas pertahanannya. Benteng ini terletak hanya sekitar 200 meter dari Pura Dalem Jagaraga. Kedekatannya dengan lokasi Pura Dalem ini dapat disebut sebagai perwujudan sistem pertahanan "duniawi-rohani" religius-spiritual. Dan, posisi benteng Jagaraga dianggap sebagai lini terdepan dalam kawasan kekuasaan sakti Dewa Siwa -- sebagai manifestasi Tuhan -- yang melambangkan kehancuran dan pralina bagi musuh atau Belanda yang berani menyerbu desa ini. Sementara istana berada di pusat desa, di muka Pura Desa.

Persiapan perang yang dilakukan laskar Bali di bawah pimpinan Patih Jelantik kala itu dapat dikatakan sebagai upaya membangun kekuatan melalui ranah religius spiritual berlandaskan ajaran agama Hindu yang diyakininya. Dalam kondisi genting seperti itu, keberadaan Pura Dalem memiliki keterkaitan sangat erat dengan Pura Desa dan Merajan Agung milik kalangan brahmana, komunitas Pande Besi di Banjar Pande dan keberadaan Patih Jelantik di bilangan belakang Pura Desa Jagaraga.

Prosesi itu bertujuan membangkitkan spirit perjuangan dalam rangkaian upacara masupati (memberi kekuatan gaib dan kesucian) yang dilakukan oleh Patih Jelantik bersama para pejuang di Merajan Agung. Usai di-pasupati, senjata-senjata itu konon secara magis "dihidupkan" kembali, serta siap digunakan. Lantas, berbagai senjata itu - dari tempat penyimpanannya, diarak menyeberang jalan di muka Pura Desa, melintasi Puri, bergerak ke depan hingga tiba di wilayah belakang perbentengan (dekat Pura Dalem Jagaraga), seterusnya menempati posisi masing-masing memperkuat benteng Jagaraga.

Pasukan bersenjata yang sudah di-pasupati itu pun bergerak melingkar ke arah kanan (searah putaran jarum jam). Dalam mitologi Hindu kerap dinamakan gerakan pradaksina. Arah gerakan ini bermakna membawa keberuntungan serta diyakini memiliki kekuatan-kekuatan magis-spiritual, menambah energi dan daya keampuhan bagi senjata tersebut. Pola serangan melingkar itulah diterapkan di medan pertahanan Jagaraga.
Singkat cerita, Perang Jagaraga berakhir menjelang senja pada 16 April 1849, dengan menelan banyak korban di kedua belah pihak. Menurut perkiraan, sekitar 2.700 orang laskar Bali gugur dalam perang itu. Sementara korban di pihak Belanda lebih dari 400 orang, termasuk beberapa perwira menengahnya.

Keunikan Pura.
Konon Raja Buleleng I Gusti Made Karangasem beserta para pengikutnya juga bermarkas di Pura Dalem ini selama terjadinya pertempuran. Solidnya pertahanan ketika itu juga diperkuat oleh pasukan pecalang yang dikoordinir Jero Jempiring. Seorang perempuan, istri patih yang patriotik, pejuang andal nan gagah berani. Peran dan kontribusinya dalam kemenangan pihak Bali pada Perang Jagaraga I sangat besar, menyebabkan strategi perbentengan Patih Jelantik hidup dan berfungsi dengan baik ketika itu.
Pura Dalem Jagaraga yang piodalan-nya jatuh setiap Umanis Kuningan, wuku Langkir ini merupakan bagian dari Pura Kahyangan Tiga yang ada di Desa Jagaraga. Tempatnya berseberangan jalan dengan kuburan (setra). Pura ini menghadap ke Barat. Tapak atau site-nya memanjang dari barat ke timur. Pekarangan pura dibatasai tembok panyengker sekelilingnya. Pada jaba sisi - sebelum memasuki jaba tengah - terdapat candi kurung atau gelung kori yang khas bentuk maupun ragam hiasnya. Relief atau pepatraan-nya sangat otentik dan memiliki ciri tersendiri. Liang takikan ukiran tidak dalam, tapi melebar dan cenderung meruncing.

Di kiri kanan dari gelung kori atau candi kurung ini terdapat betelan (pintu samping kecil) yang bagian dalam atasnya melengkung. Jarak antara gelung kori maupun betelan terhadap tepi jalan amat dekat - kurang dari dua meter. Memasuki jaba sisi, di dalam halamannya terdapat bangunan bale gong yang berdenah segi empat panjang dan beratap seng, serta bale pawaregan yang juga beratap seng. Uniknya, sebelum memasuki halaman jeroan inilah baru bisa ditemui candi bentar. Di kiri kanannya juga terdapat pintu betelan, bentuknya nyaris serupa dengan betelan di luar yang membatasi jaba sisi dengan jaba tengah. Lubang pintu bagian atas berbentuk lengkung. Pada halaman jeroan inilah berdiri antara lain palinggih Sapta Petala di area kelod kangin, gedong Prajapathi, padmasana dan gedong Ida Betara Dalem yang semuanya berjajar di timur. Di sebelah baratnya masing-masing terdapat taksu, bale pengaruman dan bale piasan.

Keunikan yang dimiliki oleh arsitektur Pura Dalem Jagaraga ini merupakan salah satu aset arsitektur yang ornamentik atau dengan ragam hias yang unik dan otentik. Begitu pula kehidupan sosio-religius masyarakatnya. Semua itu sepatutnya senantiasa dinaungi oleh denyut-denyut pelestarian tradisi yang dijiwai nilai-nilai patriotisme, kebersamaan dan persatuan dalam berkehidupan atau bermasyarakat. Terlebih keberadaan pura ini juga menyimpan nilai-nilai historis perjuangan rakyat Buleleng melawan penjajah (Belanda) tempo dulu. Pelestarian nilai-nilai dan tampilan wujud arsitekturnya turut berperan di dalam menanamkan nilai-nilai moral yang arif secara berkelanjutan.

Di Mana Benteng?
Sekarang, orang-orang yang berniat mengenang kisah perjuangan rakyat Buleleng tersebut tidak bisa lagi menyaksikan sisa-sisa peninggalan benteng Jagaraga yang sebelumnya digunakan sebagai benteng pertahanan rakyat saat Perang Jagaraga. Khususnya bagi orang-orang yang ingin menyaksikan secara langsung tempat, site, atau tapak berdirinya benteng tersebut. Titik lokasi benteng kini tak berbekas lagi, rata tanah, ditumbuhi rumput, semak-semak dan pepohonan.

Guna lebih mengenang peristiwa bersejarah, sudahkah ada upaya dari pemerintah daerah setempat maupun dari masyarakat Buleleng untuk membangun sebuah "tanda" atau monumen - kendati tak monumental - di area bekas benteng Jagaraga ini? Sebuah tanda bermakna, tidakkah perlu diwariskan pada generasi penerusnya?

Dari sisi yang lain, pelestarian arsitektur Buleleng pada khususnya, selain tetap menyesuaikan dengan perkembangan zaman di era informasi digital dan virtual dewasa ini, maka ada baiknya untuk senantiasa menggali atau mengeksplorasi pola, tatanan ruang-ruang arsitektural dan ornamen atau ragam hias yang khas dimiliki.
Adanya pemukiman tradisional Desa Julah, Sembiran, Sidatapa, Tigawasa dan lain-lain adalah beberapa di antara yang memiliki kekhasan tersebut, bisa dipakai sebagai referensi kajian.

Begitu pula banyak pura yang dulu dibangun memiliki karakter khas dalam tampilan bentuk maupun ornamen serta ragam hiasnya. Bukankah ini suatu aset yang bisa dikaji kembali, atau dikembangkan, tanpa menyisihkan "roh" yang terkandung di dalamnya? Mungkinkah ciri-ciri spesifik itu bisa diadopsi ke dalam beberapa rancangan arsitektur di kota Singaraja khususnya atau Buleleng umumnya, yang bisa memberi nuansa atau citra lokal? Dapatkah Buleleng (atau Singaraja) dikatakan sebagai salah satu kota di Nusantara yang banyak menyimpan bangunan peninggalan bersejarah, atau yang beralkulturasi dengan budaya berbagai etnis - Belanda, Cina, Arab, hingga Bugis?

Zaman terus bergulir, tapi kadang melalui kenangan pula keberadaan wujud visual arsitektural turut memberi nilai-nilai pencerahan moral manusia, menuju peradaban yang lebih bijak dan mulia. Tempat di mana bercermin dan merefleksi diri, merenung sesaat atau berkontemplasi. Salah satunya, memberi makna akan keberadaan peninggalan-peninggalan arsitektur yang bernilai historis-religius. Penghargaan terhadap pelapisan makna yang tersingkap dan kandungan nilai-nilainya, adalah pula suatu upaya melanggengkan spirit patriotisme, kejujuran, kearifan pikir dan tindakan, serta meluhurkan budi pekerti, menuju pada kualitas moral manusia yang lebih baik.

I Nyoman Gde Suardana, Bali Post, Minggu, 17 April 2005.

3 komentar:

  1. Hallo Pak Gede Suardana,

    Terus terang, saya mencari artikel tentang Jagaraga diinternet dan saya menemukan blog bapak ini karena ketertarikan saya tentang Benteng Jagaraga. Saya sempat beberapa kali ke Museum di Renon dan saya tidak pernah mendengar tentang Benteng Jagaraga. Dengan bekal ketertarikan ini, saya pun pergi ke Jagaraga kemarin sore (7 September 2009). Saya menanyakan kepada penduduk disekitar desa jagaraga. Tapi tidak ada yang mengetahui tempat ini. Saya jadi heran, apakah benteng yang saya lihat pada diorama renon tersebut cuma rekayasa belakang. Apakah penduduk sekitar desa Jagaraga tidak mengetahui keberadaan benteng ini yang jelas2 warisan sejarah mereka.

    Say juga sudah mencari di google tentang photo benteng Jagaraga ini, tapi juga tidak menemukan.

    Jika bapak bersedia memberikan informasi tentang benteng ini, saya sangat berterimakasih sekali, karena saya ingin sekali melihat kenangan/warisan sejarah, baik itu sudah berupa puing-puing, ataupun masih dalam kondisi yang tegak berdiri.

    Terima kasih,

    I Dewa Gede Arie Susila

    (Denpasar)

    BalasHapus
  2. Dear Dewa Gede Arie Susila , gambar pada buku perang jagaraga 1846-1849 pada bagian belakang buku memang berasal dari dokumen pihak belanda yang saya ambil dari gedung kirtya, benteng itu memang benar pernah ada, namun oleh belanda dihancurkan samasekali untuk mengubur kenangan dan semangatnya agar tidak muncul lagi benih benih perlawanan dari pribumi . Buku itu saya tulis saat saya tinggal di singaraja dulu, saya pindah ke jkt 1995 awal. Pak Nyoman Grde Suardana adalah seorang arsitek yang saya kenal baik, beliau menyimpan semua buku buku yang saya tulis termasuk buku perang jagaraga ini . Salam Soegianto S.

    BalasHapus
  3. om swastiastu pak gede. tyg sangat tertarik dengan artikel yang bapak tulis. tyg sangat suka dengan artikel2 yang terkait tentang budaya bali. salam kenal pak gede.. jika sempat.. mampirlah di blog saya.. terimakasih pak....

    BalasHapus